Pendidikan dan
Politikus yang Andal
Wanita ini
berperawakan kecil, tetapi memiliki kemampuan besar dan menjadi pemimpin yang
cukup desegani. Beliau adalah Ny. Hj. Machmudah Mawardi, dan menjadi salah satu
tokoh wanita yang cukup lama memegang tampuk kepemimpinan di Muslimat NU.
Siapa Machmudah Mawardi?
Beliau adalah anak tertua dari enam
bersaudara keluarga Kiai Haji Masyhud, pendiri Pesantren Al-Masyhud, Keprambon,
Sala, yang lahir 12 Februari 1912.
Pada masa muda, pemudi Machmudah
memperdalam agama Islam di Madrasah Sunniyah Keprambon, Sala, selain belajar di
Pondok Pesantren Al-Masyhud yang diasuh ayahnya. Selepas dari Madrasah
Sunniyah, ai melanjutkan belajar di Pesantren Jamsaren asuhan KH. Moh. Idris.
Pesantren ini termasuk pesantren tertua dan terkenal di Sala pada masanya.
Dengan latar belakang pendidikan
seperti itu, ia tergerak untuk terjun ke dunia pendidikan. Padahal waktu itu
masih jarang lembaga pendidikan untuk wanita. Sebagai panggilan hidupnya, maka
pada tahun 1933 ia, bersama tokoh wanita lain di Sala, mendirikan Madrasah
Nahdlatul Muslimat di Kauman Sala. Madrasah yang dirintisnya terus berkembang
dan memiliki jenjang pendidikan tingkat TK, SD, SMP dan SMA.
Sewaktu di kota kelahirannya,
Machmudah diangkat menjadi pengurus Daerah Nahdlatul Ulama Muslimat (NUM)
Surakarta. Pada 1937/1938 Nahdlatul Ulama Muslimat yang dipimpinnya sangat
gigih menentang Pemerintah Belanda, terutama berkaitan dengan Undang-Undang
Ordonansi perkawinan.
Ny. Machmudah juga dikenal ahli
berceramah. Sebagai mubalighat, juru dakwah, beliau tercatat sebagai pegawai
negeri pada Kantor Departemen Agama Jawa Tengah, di bagian Penerangan Agama.
Pada masa perang kemerdekaan, tahun
1945, Machmudah bergabung dalam barisan Hizbullah/Sabilillah Surakarta. Ia
bergerak membantu membuka dapur umum danmengumpulkan obat-obatan bersama rekan
lainnya, memenuhi kebutuhan para pejuang kemerdekaan RI pada waktu itu.
Pengabdian dan perjuangannya itu
akhirnya diakui oleg pemerintah RI. Beliau tercatat sebagai Veteran Pejuang
Kemedekaan RI.
Pada 1946, untuk pertama kalinya Ny.
Machmudah terlibat dalam dunia politik, dengan diangkatnya ia menjadi anggota
BPKNIP mewakili Masyumi (sewaktu NU masih tergabung di dalamnya). Sejak itu,
karena tugas kenegaraan beliau pindah ke Jakarta dan bermukim di Jalan Kebun
Sirih Barat No. 7 Jakarta Pusat.
Pada masa RIS (!949), ia duduk
sebagai anggota DPR/RIS yang berkedudukan di Yogyakarta.
Pada tahun 1950, ketika
diselenggarakan Muktamar Nahdlatul Ulama, Machmudah Mawardi terpilih sebagai
Ketua Umum Nahdlatul Ulama Muslimat yang berkedudukan di Ibukota/Jakarta.
Karena latarbelakang pendidikan dan kemampuannya memimpin, menjadikan Ny.
Machmudah Mawardi dipercaya menduduki jabatan ini sampai delapan periode.
Pada pemilu 1995, 1971 dan 1977, ia
duduk sebagai anggota DPR-RI dan MPR-RI. Lengkaplah predikat yang disandang Ny.
Machmudah sebagai pendidikan, mubalighat dan politikus.
Sewaktu Indonesia menyelenggarakan
KIAA (Konperensi Islam Asia Afrika), tahun 1955, Ny. Machmudah dipercaya duduk
dalam delegasi Indonesia.
Di luar Muslimat NU, peranan Ny.
Machmudah juga cukup besar. Pada 1960, Ny. Machmudah dipercaya menjadi pengurus
Presidium KOWANI (Kongres Wanita Indonesia).
Setelah cukup lama malang melintang
di dunia politik dan organisasi, pada 27 April 1985 beliau jatuh sakit
menderita kelumpuhan pada kaki akibat jatuh. Atas kehendak sendiri, pada 21
Juni 1986 beliau boyong ke Sala, tempat asalnya, setelah selama 35 tahun
tinggal di Jakarta. Di hari tuannya, beliau juga menghidap komplikasi syaraf
yang membuatnya tak sanggup berkomunikasi secara normal. Akhirnya, pada Rabu
Wage, 26 Rabi’ul Awwal 1408 H yang bertepatan dengan 18 November 1987, beliau
menhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dikebumikan di Astan Pulo, Lawiyan, Sala.
Ny. Machmudah Mawardi meninggalkan
empat putra, yakni Drs. Moh. Djabir MPA (almarhum), HA. Chalid Mawardi, Ny.
Latifah Zahro dan Ny. Dra. Farida Purnomo (Dosen IKIP Jakarta). Suaminya,
Mawardi, wafat tahun 1939 pada usia masih muda, 28 tahun.