Senin, 08 Juni 2015

BIOGRAFI NY. HJ. MACHMUDAH MAHARDI

Pendidikan dan Politikus yang Andal
Wanita ini berperawakan kecil, tetapi memiliki kemampuan besar dan menjadi pemimpin yang cukup desegani. Beliau adalah Ny. Hj. Machmudah Mawardi, dan menjadi salah satu tokoh wanita yang cukup lama memegang tampuk kepemimpinan di Muslimat NU.
            Siapa Machmudah Mawardi?
            Beliau adalah anak tertua dari enam bersaudara keluarga Kiai Haji Masyhud, pendiri Pesantren Al-Masyhud, Keprambon, Sala, yang lahir 12 Februari 1912.
            Pada masa muda, pemudi Machmudah memperdalam agama Islam di Madrasah Sunniyah Keprambon, Sala, selain belajar di Pondok Pesantren Al-Masyhud yang diasuh ayahnya. Selepas dari Madrasah Sunniyah, ai melanjutkan belajar di Pesantren Jamsaren asuhan KH. Moh. Idris. Pesantren ini termasuk pesantren tertua dan terkenal di Sala pada masanya.
            Dengan latar belakang pendidikan seperti itu, ia tergerak untuk terjun ke dunia pendidikan. Padahal waktu itu masih jarang lembaga pendidikan untuk wanita. Sebagai panggilan hidupnya, maka pada tahun 1933 ia, bersama tokoh wanita lain di Sala, mendirikan Madrasah Nahdlatul Muslimat di Kauman Sala. Madrasah yang dirintisnya terus berkembang dan memiliki jenjang pendidikan tingkat TK, SD, SMP dan SMA.
            Sewaktu di kota kelahirannya, Machmudah diangkat menjadi pengurus Daerah Nahdlatul Ulama Muslimat (NUM) Surakarta. Pada 1937/1938 Nahdlatul Ulama Muslimat yang dipimpinnya sangat gigih menentang Pemerintah Belanda, terutama berkaitan dengan Undang-Undang Ordonansi perkawinan.
            Ny. Machmudah juga dikenal ahli berceramah. Sebagai mubalighat, juru dakwah, beliau tercatat sebagai pegawai negeri pada Kantor Departemen Agama Jawa Tengah, di bagian Penerangan Agama.
            Pada masa perang kemerdekaan, tahun 1945, Machmudah bergabung dalam barisan Hizbullah/Sabilillah Surakarta. Ia bergerak membantu membuka dapur umum danmengumpulkan obat-obatan bersama rekan lainnya, memenuhi kebutuhan para pejuang kemerdekaan RI pada waktu itu.
            Pengabdian dan perjuangannya itu akhirnya diakui oleg pemerintah RI. Beliau tercatat sebagai Veteran Pejuang Kemedekaan RI.
            Pada 1946, untuk pertama kalinya Ny. Machmudah terlibat dalam dunia politik, dengan diangkatnya ia menjadi anggota BPKNIP mewakili Masyumi (sewaktu NU masih tergabung di dalamnya). Sejak itu, karena tugas kenegaraan beliau pindah ke Jakarta dan bermukim di Jalan Kebun Sirih Barat No. 7 Jakarta Pusat.
            Pada masa RIS (!949), ia duduk sebagai anggota DPR/RIS yang berkedudukan di Yogyakarta.
            Pada tahun 1950, ketika diselenggarakan Muktamar Nahdlatul Ulama, Machmudah Mawardi terpilih sebagai Ketua Umum Nahdlatul Ulama Muslimat yang berkedudukan di Ibukota/Jakarta. Karena latarbelakang pendidikan dan kemampuannya memimpin, menjadikan Ny. Machmudah Mawardi dipercaya menduduki jabatan ini sampai delapan periode.
            Pada pemilu 1995, 1971 dan 1977, ia duduk sebagai anggota DPR-RI dan MPR-RI. Lengkaplah predikat yang disandang Ny. Machmudah sebagai pendidikan, mubalighat dan politikus.
            Sewaktu Indonesia menyelenggarakan KIAA (Konperensi Islam Asia Afrika), tahun 1955, Ny. Machmudah dipercaya duduk dalam delegasi Indonesia.
            Di luar Muslimat NU, peranan Ny. Machmudah juga cukup besar. Pada 1960, Ny. Machmudah dipercaya menjadi pengurus Presidium KOWANI (Kongres Wanita Indonesia).
            Setelah cukup lama malang melintang di dunia politik dan organisasi, pada 27 April 1985 beliau jatuh sakit menderita kelumpuhan pada kaki akibat jatuh. Atas kehendak sendiri, pada 21 Juni 1986 beliau boyong ke Sala, tempat asalnya, setelah selama 35 tahun tinggal di Jakarta. Di hari tuannya, beliau juga menghidap komplikasi syaraf yang membuatnya tak sanggup berkomunikasi secara normal. Akhirnya, pada Rabu Wage, 26 Rabi’ul Awwal 1408 H yang bertepatan dengan 18 November 1987, beliau menhadap Tuhan Yang Maha Esa dan dikebumikan di Astan Pulo, Lawiyan, Sala.

            Ny. Machmudah Mawardi meninggalkan empat putra, yakni Drs. Moh. Djabir MPA (almarhum), HA. Chalid Mawardi, Ny. Latifah Zahro dan Ny. Dra. Farida Purnomo (Dosen IKIP Jakarta). Suaminya, Mawardi, wafat tahun 1939 pada usia masih muda, 28 tahun.

Sabtu, 09 Mei 2015

Menulis Lagi dan Lagi

Setiap Mata kuliah Pak Prof di mulai, sering kali Azka, Ria dan Nafis waktu di kosannya Azka membicarakan nanti waktunya Pak  Prof.
“apakah nulis lagi ya..?.” katanya anak berkrudung merah itu.
“iiya mungkin, karena setiap pelajaran beliau nulis dan di suruh buat cerita lagi kan teman-teman..” sahut saya sambil senyum manis kapada kedua teman saya, Azka dan Nafis.
Setiap hari selasa membicarakan Bapak yang mempunyai 7 anak ini. Sambil beli nasi waktu itu, Nafis dan Azka beli nasi campur, sedangkan saya pingin makan ‘Bakso’ ngobrol-ngobrol bersama.
“pean jadi beli apa maa..?.” sahut dari satu teman ku, dengan nada rendah saat mengucapkannya.
“aku bingung neng, di sisi itu saya pengen bakso tapi kalau pagi belum nasi tidak enak mbk, gimana ya..” jawab saya sambil bingung memikirkan apa yang nanti saya beli.
“ya udah mbk, beli bakso saja,” sahut saya melihat teman-teman.
Setelah antri beli nasi dan bakso, di selah-selah pembicaraan Nafis dan Azka mengatakan.
            “aku kepingin beli pentol juga..” sahut kedua temanku dengan melihat tempat pentol.
Sesudah beli makanan bersama, langsung di sikat semua makanan dengan lahap. Mungkin lapar semuanya teman-teman ini, sms ke Nitra teman kosnya Azka dan teman satu kelas. Ku lihat jam ini kok masih jam 10.30 ya. Akhirnya kita bertiga ini melakukan hal-hal yang aneh di kamar dua tempat kasur itu, dan mempunyai satu lemari yang di salah satu pintu lemari ada kaca yang biasanya tidak lepas dari wanita setiap harinya.
“sms Nitra aku pinjam mangkok buat makan bakso, boleh ya..” sms ke dia wanita yang lugu itu.
Di balas sms saya
            “iya gak papa pakek aja, kamu di kos’an ta..” balasan sms dari Nitra.
            “iya, aku lagi kos sama Nafis dan Azka.” Jawabku.
Eh gak terasah waktu udah habis untuk ngombrol-ngobrol bareng sama teman-teman di kos. Jam menunjukkan pukul 11.00.
“wah jam 11, berarti kita punya waktu tidur hanya 30 menit, agar tidak telat lagi masuk di perkulihannya Pak Prof.” Ujar Azka dengan semangat siap tidur di ranjangnya.
“pasti nanti di suruh nulis lagi ya..” sahut Nafis yang sedang enak-enaknya melihat hp sambil tidur di ranjang sebelahnya.
“iya mungkin.” Jawabku dengan nada pelan-pelan.
“walah, libur po’o ben gak kakean tugas wah, kita udah banyak tugas...” sahut Azka dengan nada tegas dan berbaring di kasur yang empuk itu.
Waktu berlalu dan jarum berputar cepat begitu saja, jam waktu udah menunjukkan pukul 11.30, waduh semuanya cepat-cepat ambil air wudhu dan biar gak telat masuk di perkuliahan yang sangat membuat terbangun untuk hidup lagi, itu ibaratnya. Jam 12.00 udah siap, akhirnya jalan demi jalan saya lalui dengan senang maupun duka. Eh eh tak kusangka ternyata udah sampai di depan gerbang coklat yang selalu aku lalui untuk masuk ke Kampus UIN SA.
Gerbang kecil itu yang aku lewati tepatnya di belakang Gedung B. Ku berjalan pelan-pelan sambil merasakan suasana di Kota Surabaya yang letaknya di Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UIN SA). Eh kok ketemu Kakak angkatan di tengah-tengah jalan yang namanya Mbak Ayu, banyak carita tentang dia PPL dan KKN. Aku dan teman-teman banyak mendapatkan informasi dan pengalaman dari kakak senior ini.
            “eh pean waktunya Pak Prof ya..?” ujar mbk Ayu.
            “iyah mbk, emang kenapa?.” Jawabku dengan tegas.
“aku cari dari jm 9 sampai jam segini kok gak ada ya.. beliau bilang bahwa kontrol di  rumah sakit karangmenjangan katanya..” kata Mbk Ayu.
“masak mbk, habis ini masuk mbk kita ini, wah berarti gak ada Pak Prof ..” jawabku dengan hati senang.
“kemarin bilang ke saya waktu ke rumah Pak Faqih, Pak Fqih akan mengantikan beliau gitu..” sahut dari salah satu temanku yang Big yaitu Tresno.
Ealah paling di suruh nulis lagi berbicara sendiri, eh ya udah mbk Ayu saya ke kelas dulu sambil melihat jam di pergelangan tangan saya. Akhirnya saya menghentikan obrolan saya dengan mbk yang cantik tersebut menuju Gedung A langsung ke kelas D1.112 yang dekatnya D1.113 kalau gak salah.
Masuk di kelas eh ternyata Bapak yang mempunyai Pesantren itu belum datang, akhirnya saya main di kelas sebelah. Kebetulan belum ada Dosennya, eh Ria, ada seorang Gadis yang memanggil dari belakang kelas yang aku samperin tadi. Ternyata Elita lalu dia berkata
            “Ria aku punya hutang pls berapa..?.” ujarnya.
            “walah 6 ribu 5 ratus rupiah Elita..” jawabku dengan santai.

Saya pun tergesah-gesah masuk ke kelas, eh ternyata ada teman jurnalistik yang bilang bahwa udah ada Dosennya. Ku cepatkan langkah kakiku menuju kelas sebelah D1.112 tempatnya 


Selasa, 28 April 2015

Thank You 365

Langkahku tak membuat berhenti untuk masuk perkuliahan Bapak separuh baya itu. Pukul 11.30 WIB hujan membasahai kos’an teman aku yang bernama Azka Azkiyatul Hilmiyah, hujan yang tak kunjung redah, di tengah-tengah air hujan yag begitu deras, begitu pula perbincangan saya, Azka dan Nafis semakin heboh.
Ujar Nafis “mesti kalau siang itu hujan?,” sambil mengengam bantal yang ada di kasur.
Sahutku “mungkin musim hujannya  belum selesai neng...?,” melihat keadaan yang ada di luar.
“tapi kok kenapa kalau wktunya Pak Prof Ali itu hujan neng...?,” sahut si Azka “wah ini bisa buat cerita lagi ya... hujan-hujan, berangkat ke kampus.”
“waduh udah jam 11.43 neng...” sahutku sambil melihat jam tangan, yang ada di tangan kiriku.
Semua anak-anak kebingungan mau siap-siap sholat dhuhur, satu per satu mengambil air wudhu. Waktu saya sholat eh tiba-tiba azka yang ada di depan saya waktu sholat, mencobah menganggu aku.
            “mama, nafis lho prei gak sholat... tapi puasa jadi batal ya maa...” sambil melihat aku sholat, agar batal sholatnya. Aku lagi khusyu’nya menjalani sholat dhuhur ini. Saya hanya ‘tersenyum’ azka melihatku.
            “hheee... mama lho tertawa... fis...?,” ujarnya sambil tertawa kepada nafis dengan tingkah laku yang aneh di atas kasurnya.
Sebelum mengerjakan sholat, ngobrol-ngobrol sambil mendengarka lagu ‘hujan’ azka menyanyikan sembari membereskan koper yang mau berangkat pulang ke kampung halamannya di Gresik.
            “hujan-hujan datang lagi... hujan-hujan malam ini...” sahutku “ lho ini kan masih siang... gak ada ta yang hujan di siang hari neng...” sambil tertawa melihati gadis polos itu.
Melihat cuaca yang di luar masih mendung yang tak mungkin harus aku terjang dengan berjalan, saya membawah motor ke kos’an azka, karena habis dari RS. Islam Jemursari. Mengantarkan surat dari Majalah Muslimat NU, motor kesayangan saya yang selalu menemani setiap harinya terguyur hujan yang lebat yang di iringi angin yang kencang.
            “maaa motor pean masuk kan ke dalam aja..?,” sahutnya dengan merasa gak enak kepadaku.
            “udah, biarin saja si motor itu di luar biar sekalian mandi... heee.. hee... kan si dia gak pernah aku mandi’in mbk...” jawabku tertawa sampai gak bisa diam lagi.
Bismillah, berangkat kuliah ya neng.
“wes aku bawah motor aja neng.. pean sama nafis jalan gak papa ta...” ujarku merayu kepada kedua temanku.
“iya, gak papa kok.. pean bawah’o motor...” sahut azka.
“aku bawah motor karena di jalan waktu masuk ke kampus di gerbang kecil yang cukup orang satu itu, mesti banjir neng... dan keadaanku pakai sepatu yang gak tahan air, takut e nanti bawah... heee.. hee...” tanyaku tertawa menutupi bagian mulutku.
Cepat-cepat bergegas menuju kampus impin saya yang mana dulu sangat perharap kuliah di IAIN yang sekarang udah ganti UIN SA. Saya sangat bangga bisa masuk di kampus itu. Mengendarai motor kesayanganku yang selalu menemani perjalanan hampir setiap hari bersama motor bebek. Dengan hujan-hujan menelusuri perjalanan hingga 200 meter dari kos’an gadis yang polos itu, menuju ke arah kampus tercinta. Yang aku idam-idam kan waktu SMA dahulu.
            “Azka, Nafis aku berangkat duluan ya... hati-hati di jalan ya sayung,” kataku sambil melambaikan tangan kiri kepadanya, sama mengayun sepeda motor.
Mengendarai motor menuju kampus kira-kira 40 km per jam, tak sangkan memasuki gerbang yang menunjukkan jalan ke Gedung Dakwah A itu,
            “eehh.. lah kok banjir kampus, aku takut kalau mati. Karena motor ini belum aku servis.” Hati berkata dan wajah ini cemas akan mogok motornya.
Bismillah, aku pasti bisa melewati dengan baik.
“mudah-mudahan tidak mogok di jalan ya Allah.” berdoa di tengah jalan
Sesampai di Gedung Dakwah A, di perjalanan air perjatuhan sampai membasahi tubuhku yang gendut ini hingga setengah basah. Mencari tempat parkir di depan Gedung Dakwah B, sama mata melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata tempat parkirannya sudah penuh semuanya. Akhirnya saya memutuskan parkir di belakang Gedung Adab yang tempatnya di bersebelahan Gedung Dakwah B. Di tengah perjalanan menuju ke tempat parkir yang biasanya aku parkir setiap harinya.
            “hah.. jam 12.10 masih kurang 10 menit, aku tergesah-gesah menaruh sepeda motor kesayanganku,” dengan keadaan hujan-hujan melihat jam tangan yang ada di lengan kiriku.
Berlari-lari kecil menuju kelas lantai 2 tepatnya di sebelah kanan anak tangga yang aku jalani hampir setiap hari aku ketemu anak tangga itu.
“seperti orang aja ketemu terus haa.. haa...” hati berbicara dengan keadaan tidak sadar.
Melangkahkan kaki setengah berlari menuju kelas, aku menoleh kebelakang eh ternyata ada Azka, Nafis, dan Nitra masih di belakangku.
            “Alhamdulillah masih ada temannya untuk terlambat, haa.. haa..” berkata sendiri sembari melihat mereka yang ada di belakangku.
Sampai di tujuan terakhir yaitu di ruang D1.112, aku tenggok ada mas farid di dalam kelas tersebut.
            “mas kelas’e kosong ta...?,” tanya Azka kepada mas Farid dengan wajah heran.
            “iiyah.” Sahut mas berkaca mata itu.
Sambil menunggu Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu, bertemu anak-anak lain, jurusan R-TV. Melepas rindu kepada temanku yang jarang masuk dari semester 1 itu, hee.. hee... langsung di peluk dengan erat sampai ndak bisa bernafas.
            “neng jangan erat-erat nanti aku mati gimana..” ujarku waktu di peluknya.
            “biarin ben mati aja...” sahutnya dengan tertawa melihat aku.
Lalu ketika masuk di ruang D1.112 itu, Titin nampaknya sakit dan banyak cerita kepada Azka, Nafis, dan saya.
            “aku sakit mag neng.. dulu waktu SMA aku sakit magkronis...” suara yang lembut keluar dari mulut Titin.
            “pean telat makan ya..” sahut si Azka menatap wajah si suara lembut itu.
            “iya neng, aku sering telat makan..” dijawab dengan suara yang lembut kepada Azka.
Gadis yang mempunyai kelembutan suara itu, membuka sebuah roti ‘sari roti’ yang berisi 4 sobek’an.
            “waduh pas buat  kita berempat, aku, Azka, Nafis, dan Titin,” ujarku melihat Titin menyobek satu-persatu untuk di berikan kepada anak-anak.
Setelah di berikan roti dari Titin itu, akan aku bagi dengan teman yang selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Yaitu ‘Laily Romadhona’ aku suapin ke mulutnya sambil memberi cokelat pada pipi yang cempluk dan di penuhi sama jerawatnya.
Hampir lama bercanda dengannya, sampai lupa bahwa ada perkuliahan Pak Prof, yang tidak boleh telat masuk di kelasnya. Ketika mau masuk di kelas eh eh.. ternyata Bapak yang sudah beruban sudah datang di kelas, aku kebingungan melihatnya.
“kenapa Pak Prof ini kok telepon kok tumben, dan kok di depannya ada Mas Farid..” aku bertanya-tanya sendiri melihat kejadian itu.
Semua mata tertuju kepada Pak Prof Ali dan Mas Farid
“otak ini masih bertanya-tanya terus..” setelah aku amati saat beliau berbicara ternyata beliau sedang menelpon orang tua Mas Farid.
Di selah-selah samar-samar pembicaraanya, sebelum menelpon ibunya, beliau menelpon Ayahnya. Tetapi tidak di angkat-angkat sama Ayahnya Mas Farid, akhirnya beliau menelpon Ibunya. Terdengar pembicaraan beliau
“bahwa farid itu cerdas bu.. kenapa kalau di jam saya jarang masuk perkuliahan dan anak ini kemana bu..?,” sedengarku saat pembicaraannya di telepon.
            “katanya tidak ada kuliah pak, dan farid tidur di rumah..” jawab ibunya mas farid.
            “iya ta rid.. kamu di rumah..” sahut Pak Prof melihat Mas Farid yang sedang menekuk kepala ke meja tepatnya di depan Dosennya.
            “iya pak.. saya tidur di rumah.” Suara yang samar-samar keluar dari mulutnya.
Jadi gini ya bu, tolong anak ini di semangati kuliah karena mulai khitobah 1,2, dan 3 tidak lulus bu.. dan mungkin Dosennya farid yang pertama kali menelpon njenengan. Dan farid ini kurang gizi, saya mohon ibu memberikan lebih banyak gizi ya bu.. itulah sekilas mendengar percakapannya dengan Ibunya Mas Farid.
Anak yang memakai kaca mata ini selalu menundukkan kepalanya di depan Pak Prof, dia tidak PD mungkin, tapi semua orang harus PD. Lalu Bapak yang memakai baju kemeja bergaris-garis hitam itu bertanya kepadanya selalu menundukkan kepalanya di atas meja yang di depannya ada 3 buku, mungkin dari jarak aku duduk di depan 2 bangku dari depan tersebut kira-kira 5 meteran. Tidak bisa melihat apa judul bukunya, yang aku lihat cuman ‘TERIMA KASIH’ karena kata-kata yang paling besar sendiri yang terdapat di buku Bapak yang pernah ngajar di sekolahan SMA PGRI wonokromo itu.
Beliau ini saat menerima telepon dari ibunya mas farid dengan nada santai dan cara duduknya juga, saudara sekalian ada buku yang menarik yang di tulis oleh “John Kralik, judulnya: 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life.” Dengan menulis di papan yang awalnya bersih tidak ada noda tersebut. (kayak baju saja ha..).
Setelah menulis di papan tulis, beliau berjalan melangkahkan kakinya dengan santai dan pelan-pelan “tuk,tuk,tuk” dengan suara sepatu militer itu menuju di depan saya. Dan mengucapkan terima kasih 365 selama perhari

sembari itu Bapak memakai ikat pinggang itu menyuruh saya untuk membaca buku yang judulnya 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life itu. Dengan suara takut dan samar-samar-membacanya.
Memang Fajriyah anaknya malu dan penakut, tetapi ingin berubah menjadi bisa lebih baik.
 Lalu 30 menitan ada 6 anak yang terlambat masuk di kelas diantaranya: Hakim, Hisyam, Handika, Faizin, dan Mas Ilham. 6 anak ini di suruh ruku’ dan sujud membaca
subhanallahi walhamdulillahiwalaa ilahailallah wawahuakbar” ucapan Profesor itu, karena udah terlambat.
Ada beberapa anak yang ruku’nya aneh, ada yang mbungkuk, dan ada yang benar, padahal kalau kuliah tidak boleh memakai sandal, lak sama saja kalau jalan-jalan di swalayan atau bepergian saja. Udah di peringati beberapa kali oleh Profesor yang di siplin itu, bahwa tidak boleh memakai sandal. Anak sekolah saja di wajibkn memakai sepatu. Masak yang besar gak memakai, tukang becak saja memakai sepatu kalah ya sama ‘Mahasiwa’ ya.. yang memakai sandal itu adalah Mas Ilham.
Di suruh sujud 150 kali, biar semuanya itu sadar atas kesalahannya. Ada anak laki-laki yang memakai kuncir seperti anak wanita saja, Profesor menjelaskan bahwa senyum manusia itu senyum Tuhan.
Tiba-tiba Bapak tujuh anak ini mengampiri Nitra dan bertanya kepadanya
            “kamu sakit ta..?,” tanyanya kepada nitra sambil melihatnya.
            “iya sakit prof..” jawabnya dengan nada rendah dan lembut.
            “sakit apa kamu nit..?,” ungkapnya lagi.
            “sakit lambung,” ujarnya sambil lemas badannya.
            “udah periksa,” tanyanya lagi. “udah kok Prof..” sahutnya.
“di kasih obat apa..? pastinya obat buat lambung ya.. kayak mylanta dan lain-lain” tanyanya Prof yang terakhir kalinya kepada Nitra.
Dengan jawaban senyuman yang di berikan oleh Nitra kepada Bapak penulis Do’a-do’a bahagia itu.
Satu persatu teman-temanku terbangun dari sujud lamanya tadi, kira-kira 15 menit lah sujud itu berakhir. Yang pertama kali bangun Hisyam di lanjutkan Handika, lalu Faizin di ikuti oleh Hakim dan yang terakhir Mas Ilham.

Minggu, 26 April 2015

Suara Merduku


Bapak Addin Chadiri masuk ke kelas dan mengucapkan syukur kepada Allah SWT. melalui Prof Ali saya di pertemukan oleh kalian di ruang ini, saudara-saudara sekalian dan terima kasih atas doanya. Alhamdulillah saya bisa bagi-bagi Ilmu tentang pablic speaking yang baik dan tidak seperti host-host banyak yang muncul di tv swasta. Saya katakan sebagaian besar host yang di tv-tv swasta itu kebanyakkan selebritis, artis, aktor bintang senetron. Sebagian besar mereka ini tidak pernah belajar dari kampus, tetapi mereka berangkat dari pablic figur yang telah di kenal oleh masyarakat.
Kemudian dia mampu berbicara di depan public, keberanian sudah ada, mental sudah bagus, lalu wawasannya sudah bagus tentunya. Karena mereka sudah banyak pengalaman-pengalaman, sehingga keberanian mereka tampil itu sudah bagus suaranya, tetapi itu menurut mereka. Tapi bagi kami praktisi televisi itu tidak menjamin seperti ‘Narji’ tampil seperti itu adanya, ya mungkin ‘Andika Pratama’ kan dia ganteng menurut anda. Jadi televisi dan radio apabila mencari host-host atau presenter kalau bener, harus mencari yang tidak keluar dari kolidor-kolidor. Kalau anda menjadi host atau presenter jangan sampai meniup microfonnya, karena di dalam microfon ini ada lapisan tipis dan kalau ibarat wanita itu jek perawan. Apabila di tiup kenceng merusak dan merusak mic tersebut, ini Ilmu ya...?
Gimana caranya kita menjadi host, presenter atau narasumber itu juga bisa menyanyi, apakah menyanyi itu juga penting buat host, presenter dan narasumber itu bisa menyanyi...? jawabannya iya karena itu sangat terkait, agar bisa mengatur tutur ucapan cara berbicara setiap kata demi kata, ucapan demi ucapan.
Sehingga melahirkan suatu nyanyian, ada suatu contoh yang sekarang masih saja di pakai, misalnya yang di siarkan oleh INBOX pagi yang di tayangkan di SCTV yang di bawahkan ‘Putri Sakar’ membaca teksnya itu tidak dengan berlagu tetapi dengan memakai nada lain misalnya “sepanjang perjalanan kenangan kita selalu bergandeng tanggan” kaitannya dengan host atau presenter itu sangat terkait. Saat berbicara ini ada nada naik turunnya, jangan terlalu lema lunglai, ya harus jelas ketika kita mau berbiacara agar bisa di terima oleh audiens dengan baik.
Terkadang orang berbicara mulutnya tidak buka tapi jelas, ada orang juga apabila tidak buka mulutnya tidak jelas. Ketika kita ucapkan A I U E O dengan jelas akan bisa melonggarka pita suara yang mendapatkan suara yang bagus. Sehingga seorang host atau presenter ini pernafasannya memakai pernafasan perut, agar tidak cepat lelah. Berlatihlah di pantai atau di tempat yang sepi dengan suara yang keras-kerasnya.
Semuanya pasti tau bahwasannya pernafasan dengan perut itu ketika menarik nafas perut kita membesar dan apabila menggeluarkan nafas akan mengecil berut kita. Dan kalau setiap hari kita lakukan akan terbiasa melakukan dengan sendirinya.
Akan tetapi seorang penyanyi menggunakan diafragma, bagi wanita tidak perlu mengunakan nada bass kalau buat cowok itu perlu di lakukan, jangan sampai di televisi nguanteng, gagah sispek tapi berbicaranya kalem atau kayak anak bencong.
Semua Mahasiswa tertawa ‘hahahahaha...’ melihat Pak Addin meragakannya seperti bencong beneran.
Beliau cerita bahwa lagi sakit suaranya tidak normal dan Alhamdulillah ketika beliau jadi MC di Masjid Agung acara Harlah PMII yang di hadiri oleh Bapak Presiden RI, ketika itu suara saya, saya dekatkan pada microfon dan saat itu sound sistemnya bagus. Suara saya yang aslinya rusak, dengan Kuasa Allah SWT suara saya kembali normal Alhamdulillahnya lagi gak ada yang komplain di siarkan langsung di TV9. Dan selesai mengisi menjadi MC lha kok suaranya kembali yang rusak tersebut.
Mahasiswa terhipnotis oleh kata-kata beliau “Subhanallah...” ucap mahasiswa itu dengan melihat beliau.
Jadi kita harus tau apa yang mau di ucapkan, mulut kita dengan impromtu. Harus mempunyai kepeka’an yang tinggi, sangat di tekankan kepada semua pembicar di televisi khususnya, waktu berbicara menggunakan mic harus kita kontrol di mana waktu yang enak di dengar pleh audiens. Apakah mic ini jauh atau dekat dari mulut kita. Berbicara itu harus kita olah jangan sampai kita los aja atau dalam arti itu jangan sembarangan. Lah ini lah salah satu trip untuk kita semuanya yang mau belajar cara mengontrol suara.
PROBLEMATIKA SUARA
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.        Problematika Kualitas Suara
Penyiar atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah semestinya karakter itu merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara yang lalu terdengar kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya sudah diketahui maka perlu dicari jalan keluarnya.
a.  Suara parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka penyebabnya ada 2 :
·        Gejala gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
·        Pengucapan suara yang berlebih-lebihan, misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya beberapa alat ucap menjadi tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa yang enak. Untuk mengatasinya diperlukan istirahat.
b. Suara tipis
Suara tipis yang terdengar lemah biasanya disebabkan oleh mekanisme penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan pembiasaan penyuaraan secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat lemahnya suara ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya olah alat ucap mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan menutup hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara kuat-kuat.karena, bisa jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di hidung.
c. Suara pecah
Bayangkan seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang terjadi suaranya bakal pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa. Dan tidak bermelodi sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik pernapasan yang benar, penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan ditargetkan untuk kesan tertentu.
2.  Problematika Penyuaraan
a.    Monoton
Kegagalan untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan tuturan yang monoton. Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan tinggi rendahnya cara penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis. Seringkali gaya monoton ini akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi lain tuturan seperti ini akan menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang cenderung monoton perlu memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b.    Miskin Nada
Beberapa orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu ke itu juga. Kalau tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar adalah ketidakwajaran. Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak menghasilkan rnakna apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan ketahuan aslinya sedikit merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan nada dasar yang mampu disuarakannya.
c.    Singsong
Gaya ini hanya layak bagi penyiar "disc jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi tuturan. Tempo yang tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan bagian dari ciri singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak bernuansa DJ, maka sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya tuturan dengan rentang nada yang wajar saja.
d.    Pola Akhiran
Tak sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian akhir sebuah kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama sekali dihilangkan.
e.    Menderu
Ada penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu dengan memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya yang dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh saja, tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3.       Problematika Pemapasan
Pemapasan yang keliru akan melahirkan bunyi tuturan yang kurang enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan bernapas dengan dada ketika siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi problema :
a.    Suara berdesah napas
Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe pastikan tak mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati suaranya secara detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah membentuk diri kendala seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu tak dapat dihilangkan sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan udara dari dada atau diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak teratasi maka diperlukan terapi medis.
b.      Suara tanpa daya
Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan pada otot-otot di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam konsep tujuan penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran (atau siapa audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan pemapasan diafrakma untuk mengatasinya.
Wawancara adalah cara membujuk orang untuk menyatakan sesuatu dengan sebenarnya.
Pekerjaan atau tugas mengeluarkan atau memancing informasi atau pernyataan yang benar ini untuk kepentingan para penonton / pemirsa.
Wawancara atau talk show di TV lebih transparan / terbuka dari pada di radio.
Penjelasan dari yang diwawancarai atau nara sumber ( NS ) apabila menunjukan keraguan atau kurang meyakinkan akan terlihat jelas dari gerak mata atau senyum yang di tahan. Sebaliknya seringkali kita melihat diberbagai kesempatan, seorang pewancara / pembawa acara / MC seolah – olah kehilangan pegangan, kaku dan bingung tak tahu apa yang harus diperbuat ketika tiba-tiba saja dihadapkan pada situasi yang kurang menyenangkan, Gaduh, banyak orang memberikan perintah harus begini begitu, narasumber belum datang, susunan acara berubah dan lain-lain.
Seorang pewawancara atau pembawa acara, apa yang bisa disebut sebagai komunikator dituntut pengetahuan, pengalaman / jam terbang yang luas, tegas bicaranya lugas tapi luwes, keterangannya akurat, spontanitas tinggi mampu mengahadapi situasi mendadak serta mampu bergaya menawan untuk menyelesaikan masalah yang muncul.
Dilihat dari banyaknya tuntutan semacam ini, maka dapat dipahami siapa saja yang akan memasuki dunia dan profesi sebagai PA/MC harus memiliki modal yang banyak diantaranya:
1.      Berpendidikan dan berpengatahuan umum yang luas
2.      Kemampuan berbahasa Indonesia atau inggris yang baik
3.      Tampil menawan dan ramah
4.      Cekatan dan sabar
5.      Mampu memimpin acara
Karena tampil di media Audio Visual, maka sebaiknya PA/MC:
1.      Tidak cacat fisik / mental
2.      Tidak memilki kebiasaan kebiasaan aneh ( lagena, pendono) mislanya sering melet melet.
3.      Tidak terkesan menggurui.
Untuk membangun komunikasi yang buisa menghidupkan situasi wawancara, sebaiknya PA/MC :
1.      Jangan puas dengan daftar pertanyaan yang sudah dibuat,
akan mati situasinya.
2.      Hindarkan sifat pengulangan suatu pertanyaan
3.      Lakukan pendekatan kepada narasumber ( kalau belum kenal )  agar wawancara gayeng
4.      Hindari pertanyaan yang bertele-tele / panjang
5.      Berperanlah sebagai orang yang belum / tidak mengerti apa-apa soal materi yang dibahas.
6.      Jadilah anda sebagai orang yang menyenangkan bagi narasumber
7.      Jangan sering-sering menginterupsi pembicaraan narasumber
8.      Jangan menganggap setiap jawaban NS tidak memuaskan.
Bagaimana seorang PA/MC tampil, apa yang diucapkan, bagaimana cara mengatakannya, juga merupakan tips penting yang harus diperhatikan untuk mencapai komunikasi yang sukses. Seorang PA/MC yang baik mamlou menganngkat acara yang dibawakan sehingga memberi warna dan kesan yang mendalam bagi Audience / beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.      Hendaknya datang ke tempat acara minimal 1 jam sebelum acara dimulai untuk Cek dan Ricek susunan acara, Mikrphone dan tempat duduk tamu tamu penting.
2.      Menguasai materi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual.
3.      Menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar.
4.      Berpakaian sopan yang disesuaikan dengan acara
5.      Bersikap luwes, sopan dan ramah
Seorang PA/ MC diharapkan memilki sifat Extrovert dan bukan Introvert :
1.      Extrovert : orang yang terbuka, bisa bertukar pikiran dengan siapa saja, enak bergaul dan menyenangkan.
2.      Introvert : orang yang bersifat tertutup, selalu cemberut, sulit berdialog, susah mengeluarkan pendapat, amat sangat pendiam, pendendam dan sifat sifat lain yang tidak mengguntungkan dalam pergaulan.
AA Gym dalam buku tinjauan terhadap retorika AA Gym yang ditulis Komarruddin Cholil, halaman 84, memberikan tips cantik untuk menjaga penampilan didepan publik:
1.      Kenali Audience, apakah termasuk kelompok eksekutif, remaja, orang tua, majelis ta’lim
2.      Kenakan pakaian yang paling sesuai dengan suasana, materi acara dan Audince
3.      Pilihlah pakaiaan yang nyaman, jangan terlalu sempit atau membuat gerah
4.      Berpakaian yang sederhana dan tidak berlebihan
5.      Pakaian yang dikenakan bersih, rapi dan serasi
6.      Sepatu yang akan dipakai disemir dahulu
7.      Pastikan bercermin sebelum tampil atau bertanay kepada / istri / suami/ teman / sahabat, apakah sudah rapi.
8.      Lakukan cek-ricek terhadap penampilan
9.      Niatkan berpakaian untuk menghormati audience sehingga akan benilai Ibadah.
10.  Hindari perhiasan / acesories yang berlebihan
Kebersihan, rapi itu termasuk dari presenter. Tadi udah di singgung bahwa tehnik berbicara itu tidak pakai di buat-buat, kalau di buat oleh dunia lawak sih gak masalah. Sambil tertawa audient yang mendengarkan suara beliau “haa... haaa... hhaa...” jadi seorang host atau presenter tidaklah mudah seperti yang saya bayangkan dalam pikiran, seorang presenter harus di biasakan berbicara yang benar dalam kehidupan yang nyata karena bisa mempengaruhi berbicara anda.
Lah mudah-mudah tak doa kan dari kalian bisa nyangkut ‘kayak pohon aja nyangkut’ menjadi presenter 1 dari 2 kalian, meskipun tidak semuanya. Dengan ucapan Bapak Addin tadi semua anak-anak KPI A1 menyahuti “aammiinnnn...” dengan serempak, mudah-mudahan doa tadi di kabulkan oleh Allah SWT. meskipun tidak semuanya, ada kamera alat ini sangat jenius dan bisa melaporkan seluruh keadaan, kondisi wajah anda, itu sangat jujur. Gak ada yang jelek jadi bagus kecuali kalau sudah di poles dengan macam-macam Mahasiswa menyahuti lagi dengan kata yang biasa di ucapkan dan aplikasinya banyak yang punya yaitu “360,” kalau situasi wajah anda cantik, manis, atau kamera fes ya di laporkan dengan jujur.
Saya dahulu menurut juri-juri waktu tampil itu ‘Alhamdulillah’ saya kamera fesh, saya tidak menduga, karena sebelumnya yang 11 tahunnya di radio, pengalaman di radio bukan di televisi, jadi saya tidak mengerti. Apakah saya ini kamera fesh atau tidak saya tidak ngerti. Sehingga pada waktu tes seleksi sama kamera, saya ini lulus karena wajah saya kamera fesh, bukan baby fesh. Kemudian saya layak dan di terima, beliau berdoa yang mana biasanya di baca semua orang artinya yang menjaga anggota tubuh dan panca indra seperti :mata, hidung, mulut dan telinga. Berbica di depan audien juga tidak boleh ragu-ragu, harus meyakinkan audiennya. Beda, pemirsa di rumah juga merasakan “waduh subhanallah indah sekali orang ini mengucapkan kata-katanya, mantap!!.
Apabila presenter mengingat-ingat kata perkata yang sudah di tulis, di tengah perjalanan ketika berbicara tidak lancar akan hancur, maka kita harus mengambil kebijakan sendiri dan harus menyakinkan audient agar percaya, tertarik kepada orangnya tersebut.  Ada S2 dari IAIN yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UIN SA) ketika menyampaikan pidato dan mukaddimahnya beliau ini tidak berani menatap kamera jadi matanya mengedip-ngedipkan terus, sambil melet-melet. Dari hal inilah yang di khawatirkan apabila di televisi terjadi seperti itu, hindarilah kebiasaan yang jelek tersebut menjadi baik, seorang host atau presenter juga bagus dari penampilan terutama wajah. Karena wajah apabila tidak cantik atau ganteng, meskipun suaranya enak di dengar. Tetapi wajahnya tidak cantik maka tetap saja tidak bisa menjadi presenter di televisi. Ada yang suaranya cempreng tetapi orangnya cantik atau ganteng, orang ini bisa jadi presenter di televisi.
Padahal yang paling penting suaranya enak, bukan karena wajah yang kurang bagus. Menyampaikan informasi juga mengunakan ekspresi wajah, ketika susah ya dengan ekspresi susah dan sebaliknya apabila senang ya dengan senang ekspresinya. Misalnya meninggalnya Olga
masak mengucapkan sambil senyum “atas meninggalnya Olga saya turut perduka cita ya...?,
salah satu anak di dalam kelas ini bertanya kepada Bapak Addin,
“Pak saya ini masih bingung, kata teman saya jadi presenter itu ngomong biasa..? karena teman saya ini sudah menjadi host atau presenter Pak!,” dengan wajah yang masih bingung.