Minggu, 26 April 2015

Suara Merduku


Bapak Addin Chadiri masuk ke kelas dan mengucapkan syukur kepada Allah SWT. melalui Prof Ali saya di pertemukan oleh kalian di ruang ini, saudara-saudara sekalian dan terima kasih atas doanya. Alhamdulillah saya bisa bagi-bagi Ilmu tentang pablic speaking yang baik dan tidak seperti host-host banyak yang muncul di tv swasta. Saya katakan sebagaian besar host yang di tv-tv swasta itu kebanyakkan selebritis, artis, aktor bintang senetron. Sebagian besar mereka ini tidak pernah belajar dari kampus, tetapi mereka berangkat dari pablic figur yang telah di kenal oleh masyarakat.
Kemudian dia mampu berbicara di depan public, keberanian sudah ada, mental sudah bagus, lalu wawasannya sudah bagus tentunya. Karena mereka sudah banyak pengalaman-pengalaman, sehingga keberanian mereka tampil itu sudah bagus suaranya, tetapi itu menurut mereka. Tapi bagi kami praktisi televisi itu tidak menjamin seperti ‘Narji’ tampil seperti itu adanya, ya mungkin ‘Andika Pratama’ kan dia ganteng menurut anda. Jadi televisi dan radio apabila mencari host-host atau presenter kalau bener, harus mencari yang tidak keluar dari kolidor-kolidor. Kalau anda menjadi host atau presenter jangan sampai meniup microfonnya, karena di dalam microfon ini ada lapisan tipis dan kalau ibarat wanita itu jek perawan. Apabila di tiup kenceng merusak dan merusak mic tersebut, ini Ilmu ya...?
Gimana caranya kita menjadi host, presenter atau narasumber itu juga bisa menyanyi, apakah menyanyi itu juga penting buat host, presenter dan narasumber itu bisa menyanyi...? jawabannya iya karena itu sangat terkait, agar bisa mengatur tutur ucapan cara berbicara setiap kata demi kata, ucapan demi ucapan.
Sehingga melahirkan suatu nyanyian, ada suatu contoh yang sekarang masih saja di pakai, misalnya yang di siarkan oleh INBOX pagi yang di tayangkan di SCTV yang di bawahkan ‘Putri Sakar’ membaca teksnya itu tidak dengan berlagu tetapi dengan memakai nada lain misalnya “sepanjang perjalanan kenangan kita selalu bergandeng tanggan” kaitannya dengan host atau presenter itu sangat terkait. Saat berbicara ini ada nada naik turunnya, jangan terlalu lema lunglai, ya harus jelas ketika kita mau berbiacara agar bisa di terima oleh audiens dengan baik.
Terkadang orang berbicara mulutnya tidak buka tapi jelas, ada orang juga apabila tidak buka mulutnya tidak jelas. Ketika kita ucapkan A I U E O dengan jelas akan bisa melonggarka pita suara yang mendapatkan suara yang bagus. Sehingga seorang host atau presenter ini pernafasannya memakai pernafasan perut, agar tidak cepat lelah. Berlatihlah di pantai atau di tempat yang sepi dengan suara yang keras-kerasnya.
Semuanya pasti tau bahwasannya pernafasan dengan perut itu ketika menarik nafas perut kita membesar dan apabila menggeluarkan nafas akan mengecil berut kita. Dan kalau setiap hari kita lakukan akan terbiasa melakukan dengan sendirinya.
Akan tetapi seorang penyanyi menggunakan diafragma, bagi wanita tidak perlu mengunakan nada bass kalau buat cowok itu perlu di lakukan, jangan sampai di televisi nguanteng, gagah sispek tapi berbicaranya kalem atau kayak anak bencong.
Semua Mahasiswa tertawa ‘hahahahaha...’ melihat Pak Addin meragakannya seperti bencong beneran.
Beliau cerita bahwa lagi sakit suaranya tidak normal dan Alhamdulillah ketika beliau jadi MC di Masjid Agung acara Harlah PMII yang di hadiri oleh Bapak Presiden RI, ketika itu suara saya, saya dekatkan pada microfon dan saat itu sound sistemnya bagus. Suara saya yang aslinya rusak, dengan Kuasa Allah SWT suara saya kembali normal Alhamdulillahnya lagi gak ada yang komplain di siarkan langsung di TV9. Dan selesai mengisi menjadi MC lha kok suaranya kembali yang rusak tersebut.
Mahasiswa terhipnotis oleh kata-kata beliau “Subhanallah...” ucap mahasiswa itu dengan melihat beliau.
Jadi kita harus tau apa yang mau di ucapkan, mulut kita dengan impromtu. Harus mempunyai kepeka’an yang tinggi, sangat di tekankan kepada semua pembicar di televisi khususnya, waktu berbicara menggunakan mic harus kita kontrol di mana waktu yang enak di dengar pleh audiens. Apakah mic ini jauh atau dekat dari mulut kita. Berbicara itu harus kita olah jangan sampai kita los aja atau dalam arti itu jangan sembarangan. Lah ini lah salah satu trip untuk kita semuanya yang mau belajar cara mengontrol suara.
PROBLEMATIKA SUARA
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.        Problematika Kualitas Suara
Penyiar atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah semestinya karakter itu merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara yang lalu terdengar kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya sudah diketahui maka perlu dicari jalan keluarnya.
a.  Suara parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka penyebabnya ada 2 :
·        Gejala gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
·        Pengucapan suara yang berlebih-lebihan, misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya beberapa alat ucap menjadi tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa yang enak. Untuk mengatasinya diperlukan istirahat.
b. Suara tipis
Suara tipis yang terdengar lemah biasanya disebabkan oleh mekanisme penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan pembiasaan penyuaraan secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat lemahnya suara ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya olah alat ucap mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan menutup hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara kuat-kuat.karena, bisa jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di hidung.
c. Suara pecah
Bayangkan seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang terjadi suaranya bakal pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa. Dan tidak bermelodi sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik pernapasan yang benar, penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan ditargetkan untuk kesan tertentu.
2.  Problematika Penyuaraan
a.    Monoton
Kegagalan untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan tuturan yang monoton. Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan tinggi rendahnya cara penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis. Seringkali gaya monoton ini akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi lain tuturan seperti ini akan menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang cenderung monoton perlu memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b.    Miskin Nada
Beberapa orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu ke itu juga. Kalau tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar adalah ketidakwajaran. Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak menghasilkan rnakna apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan ketahuan aslinya sedikit merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan nada dasar yang mampu disuarakannya.
c.    Singsong
Gaya ini hanya layak bagi penyiar "disc jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi tuturan. Tempo yang tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan bagian dari ciri singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak bernuansa DJ, maka sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya tuturan dengan rentang nada yang wajar saja.
d.    Pola Akhiran
Tak sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian akhir sebuah kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama sekali dihilangkan.
e.    Menderu
Ada penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu dengan memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya yang dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh saja, tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3.       Problematika Pemapasan
Pemapasan yang keliru akan melahirkan bunyi tuturan yang kurang enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan bernapas dengan dada ketika siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi problema :
a.    Suara berdesah napas
Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe pastikan tak mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati suaranya secara detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah membentuk diri kendala seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu tak dapat dihilangkan sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan udara dari dada atau diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak teratasi maka diperlukan terapi medis.
b.      Suara tanpa daya
Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan pada otot-otot di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam konsep tujuan penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran (atau siapa audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan pemapasan diafrakma untuk mengatasinya.
Wawancara adalah cara membujuk orang untuk menyatakan sesuatu dengan sebenarnya.
Pekerjaan atau tugas mengeluarkan atau memancing informasi atau pernyataan yang benar ini untuk kepentingan para penonton / pemirsa.
Wawancara atau talk show di TV lebih transparan / terbuka dari pada di radio.
Penjelasan dari yang diwawancarai atau nara sumber ( NS ) apabila menunjukan keraguan atau kurang meyakinkan akan terlihat jelas dari gerak mata atau senyum yang di tahan. Sebaliknya seringkali kita melihat diberbagai kesempatan, seorang pewancara / pembawa acara / MC seolah – olah kehilangan pegangan, kaku dan bingung tak tahu apa yang harus diperbuat ketika tiba-tiba saja dihadapkan pada situasi yang kurang menyenangkan, Gaduh, banyak orang memberikan perintah harus begini begitu, narasumber belum datang, susunan acara berubah dan lain-lain.
Seorang pewawancara atau pembawa acara, apa yang bisa disebut sebagai komunikator dituntut pengetahuan, pengalaman / jam terbang yang luas, tegas bicaranya lugas tapi luwes, keterangannya akurat, spontanitas tinggi mampu mengahadapi situasi mendadak serta mampu bergaya menawan untuk menyelesaikan masalah yang muncul.
Dilihat dari banyaknya tuntutan semacam ini, maka dapat dipahami siapa saja yang akan memasuki dunia dan profesi sebagai PA/MC harus memiliki modal yang banyak diantaranya:
1.      Berpendidikan dan berpengatahuan umum yang luas
2.      Kemampuan berbahasa Indonesia atau inggris yang baik
3.      Tampil menawan dan ramah
4.      Cekatan dan sabar
5.      Mampu memimpin acara
Karena tampil di media Audio Visual, maka sebaiknya PA/MC:
1.      Tidak cacat fisik / mental
2.      Tidak memilki kebiasaan kebiasaan aneh ( lagena, pendono) mislanya sering melet melet.
3.      Tidak terkesan menggurui.
Untuk membangun komunikasi yang buisa menghidupkan situasi wawancara, sebaiknya PA/MC :
1.      Jangan puas dengan daftar pertanyaan yang sudah dibuat,
akan mati situasinya.
2.      Hindarkan sifat pengulangan suatu pertanyaan
3.      Lakukan pendekatan kepada narasumber ( kalau belum kenal )  agar wawancara gayeng
4.      Hindari pertanyaan yang bertele-tele / panjang
5.      Berperanlah sebagai orang yang belum / tidak mengerti apa-apa soal materi yang dibahas.
6.      Jadilah anda sebagai orang yang menyenangkan bagi narasumber
7.      Jangan sering-sering menginterupsi pembicaraan narasumber
8.      Jangan menganggap setiap jawaban NS tidak memuaskan.
Bagaimana seorang PA/MC tampil, apa yang diucapkan, bagaimana cara mengatakannya, juga merupakan tips penting yang harus diperhatikan untuk mencapai komunikasi yang sukses. Seorang PA/MC yang baik mamlou menganngkat acara yang dibawakan sehingga memberi warna dan kesan yang mendalam bagi Audience / beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.      Hendaknya datang ke tempat acara minimal 1 jam sebelum acara dimulai untuk Cek dan Ricek susunan acara, Mikrphone dan tempat duduk tamu tamu penting.
2.      Menguasai materi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual.
3.      Menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar.
4.      Berpakaian sopan yang disesuaikan dengan acara
5.      Bersikap luwes, sopan dan ramah
Seorang PA/ MC diharapkan memilki sifat Extrovert dan bukan Introvert :
1.      Extrovert : orang yang terbuka, bisa bertukar pikiran dengan siapa saja, enak bergaul dan menyenangkan.
2.      Introvert : orang yang bersifat tertutup, selalu cemberut, sulit berdialog, susah mengeluarkan pendapat, amat sangat pendiam, pendendam dan sifat sifat lain yang tidak mengguntungkan dalam pergaulan.
AA Gym dalam buku tinjauan terhadap retorika AA Gym yang ditulis Komarruddin Cholil, halaman 84, memberikan tips cantik untuk menjaga penampilan didepan publik:
1.      Kenali Audience, apakah termasuk kelompok eksekutif, remaja, orang tua, majelis ta’lim
2.      Kenakan pakaian yang paling sesuai dengan suasana, materi acara dan Audince
3.      Pilihlah pakaiaan yang nyaman, jangan terlalu sempit atau membuat gerah
4.      Berpakaian yang sederhana dan tidak berlebihan
5.      Pakaian yang dikenakan bersih, rapi dan serasi
6.      Sepatu yang akan dipakai disemir dahulu
7.      Pastikan bercermin sebelum tampil atau bertanay kepada / istri / suami/ teman / sahabat, apakah sudah rapi.
8.      Lakukan cek-ricek terhadap penampilan
9.      Niatkan berpakaian untuk menghormati audience sehingga akan benilai Ibadah.
10.  Hindari perhiasan / acesories yang berlebihan
Kebersihan, rapi itu termasuk dari presenter. Tadi udah di singgung bahwa tehnik berbicara itu tidak pakai di buat-buat, kalau di buat oleh dunia lawak sih gak masalah. Sambil tertawa audient yang mendengarkan suara beliau “haa... haaa... hhaa...” jadi seorang host atau presenter tidaklah mudah seperti yang saya bayangkan dalam pikiran, seorang presenter harus di biasakan berbicara yang benar dalam kehidupan yang nyata karena bisa mempengaruhi berbicara anda.
Lah mudah-mudah tak doa kan dari kalian bisa nyangkut ‘kayak pohon aja nyangkut’ menjadi presenter 1 dari 2 kalian, meskipun tidak semuanya. Dengan ucapan Bapak Addin tadi semua anak-anak KPI A1 menyahuti “aammiinnnn...” dengan serempak, mudah-mudahan doa tadi di kabulkan oleh Allah SWT. meskipun tidak semuanya, ada kamera alat ini sangat jenius dan bisa melaporkan seluruh keadaan, kondisi wajah anda, itu sangat jujur. Gak ada yang jelek jadi bagus kecuali kalau sudah di poles dengan macam-macam Mahasiswa menyahuti lagi dengan kata yang biasa di ucapkan dan aplikasinya banyak yang punya yaitu “360,” kalau situasi wajah anda cantik, manis, atau kamera fes ya di laporkan dengan jujur.
Saya dahulu menurut juri-juri waktu tampil itu ‘Alhamdulillah’ saya kamera fesh, saya tidak menduga, karena sebelumnya yang 11 tahunnya di radio, pengalaman di radio bukan di televisi, jadi saya tidak mengerti. Apakah saya ini kamera fesh atau tidak saya tidak ngerti. Sehingga pada waktu tes seleksi sama kamera, saya ini lulus karena wajah saya kamera fesh, bukan baby fesh. Kemudian saya layak dan di terima, beliau berdoa yang mana biasanya di baca semua orang artinya yang menjaga anggota tubuh dan panca indra seperti :mata, hidung, mulut dan telinga. Berbica di depan audien juga tidak boleh ragu-ragu, harus meyakinkan audiennya. Beda, pemirsa di rumah juga merasakan “waduh subhanallah indah sekali orang ini mengucapkan kata-katanya, mantap!!.
Apabila presenter mengingat-ingat kata perkata yang sudah di tulis, di tengah perjalanan ketika berbicara tidak lancar akan hancur, maka kita harus mengambil kebijakan sendiri dan harus menyakinkan audient agar percaya, tertarik kepada orangnya tersebut.  Ada S2 dari IAIN yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UIN SA) ketika menyampaikan pidato dan mukaddimahnya beliau ini tidak berani menatap kamera jadi matanya mengedip-ngedipkan terus, sambil melet-melet. Dari hal inilah yang di khawatirkan apabila di televisi terjadi seperti itu, hindarilah kebiasaan yang jelek tersebut menjadi baik, seorang host atau presenter juga bagus dari penampilan terutama wajah. Karena wajah apabila tidak cantik atau ganteng, meskipun suaranya enak di dengar. Tetapi wajahnya tidak cantik maka tetap saja tidak bisa menjadi presenter di televisi. Ada yang suaranya cempreng tetapi orangnya cantik atau ganteng, orang ini bisa jadi presenter di televisi.
Padahal yang paling penting suaranya enak, bukan karena wajah yang kurang bagus. Menyampaikan informasi juga mengunakan ekspresi wajah, ketika susah ya dengan ekspresi susah dan sebaliknya apabila senang ya dengan senang ekspresinya. Misalnya meninggalnya Olga
masak mengucapkan sambil senyum “atas meninggalnya Olga saya turut perduka cita ya...?,
salah satu anak di dalam kelas ini bertanya kepada Bapak Addin,
“Pak saya ini masih bingung, kata teman saya jadi presenter itu ngomong biasa..? karena teman saya ini sudah menjadi host atau presenter Pak!,” dengan wajah yang masih bingung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar