Bapak
Addin Chadiri masuk ke kelas dan mengucapkan syukur kepada Allah SWT. melalui
Prof Ali saya di pertemukan oleh kalian di ruang ini, saudara-saudara sekalian
dan terima kasih atas doanya. Alhamdulillah saya bisa bagi-bagi Ilmu tentang
pablic speaking yang baik dan tidak seperti host-host banyak yang muncul di tv
swasta. Saya katakan sebagaian besar host yang di tv-tv swasta itu kebanyakkan
selebritis, artis, aktor bintang senetron. Sebagian besar mereka ini tidak
pernah belajar dari kampus, tetapi mereka berangkat dari pablic figur yang
telah di kenal oleh masyarakat.
Kemudian
dia mampu berbicara di depan public, keberanian sudah ada, mental sudah bagus,
lalu wawasannya sudah bagus tentunya. Karena mereka sudah banyak
pengalaman-pengalaman, sehingga keberanian mereka tampil itu sudah bagus
suaranya, tetapi itu menurut mereka. Tapi bagi kami praktisi televisi itu tidak
menjamin seperti ‘Narji’ tampil seperti itu adanya, ya mungkin ‘Andika
Pratama’ kan dia ganteng menurut anda. Jadi televisi dan radio apabila mencari
host-host atau presenter kalau bener, harus mencari yang tidak keluar dari
kolidor-kolidor. Kalau anda menjadi host atau presenter jangan sampai meniup
microfonnya, karena di dalam microfon ini ada lapisan tipis dan kalau ibarat
wanita itu jek perawan. Apabila di tiup kenceng merusak dan merusak mic
tersebut, ini Ilmu ya...?
Gimana
caranya kita menjadi host, presenter atau narasumber itu juga bisa menyanyi,
apakah menyanyi itu juga penting buat host, presenter dan narasumber itu bisa
menyanyi...? jawabannya iya karena itu sangat terkait, agar bisa mengatur tutur
ucapan cara berbicara setiap kata demi kata, ucapan demi ucapan.
Sehingga
melahirkan suatu nyanyian, ada suatu contoh yang sekarang masih saja di pakai,
misalnya yang di siarkan oleh INBOX pagi yang di tayangkan di SCTV yang di
bawahkan ‘Putri Sakar’ membaca teksnya itu tidak dengan berlagu tetapi dengan
memakai nada lain misalnya “sepanjang perjalanan kenangan kita selalu
bergandeng tanggan” kaitannya dengan host atau presenter itu sangat
terkait. Saat berbicara ini ada nada naik turunnya, jangan terlalu lema
lunglai, ya harus jelas ketika kita mau berbiacara agar bisa di terima oleh
audiens dengan baik.
Terkadang
orang berbicara mulutnya tidak buka tapi jelas, ada orang juga apabila tidak
buka mulutnya tidak jelas. Ketika kita ucapkan A I U E O dengan jelas akan bisa
melonggarka pita suara yang mendapatkan suara yang bagus. Sehingga seorang host
atau presenter ini pernafasannya memakai pernafasan perut, agar tidak cepat
lelah. Berlatihlah di pantai atau di tempat yang sepi dengan suara yang
keras-kerasnya.
Semuanya
pasti tau bahwasannya pernafasan dengan perut itu ketika menarik nafas perut
kita membesar dan apabila menggeluarkan nafas akan mengecil berut kita. Dan
kalau setiap hari kita lakukan akan terbiasa melakukan dengan sendirinya.
Akan
tetapi seorang penyanyi menggunakan diafragma, bagi wanita tidak perlu
mengunakan nada bass kalau buat cowok itu perlu di lakukan, jangan sampai di
televisi nguanteng, gagah sispek tapi berbicaranya kalem atau kayak anak
bencong.
Semua Mahasiswa tertawa ‘hahahahaha...’ melihat Pak Addin
meragakannya seperti bencong beneran.
Beliau
cerita bahwa lagi sakit suaranya tidak normal dan Alhamdulillah ketika beliau
jadi MC di Masjid Agung acara Harlah PMII yang di hadiri oleh Bapak Presiden
RI, ketika itu suara saya, saya dekatkan pada microfon dan saat itu sound
sistemnya bagus. Suara saya yang aslinya rusak, dengan Kuasa Allah SWT suara
saya kembali normal Alhamdulillahnya lagi gak ada yang komplain di siarkan
langsung di TV9. Dan selesai mengisi menjadi MC lha kok suaranya kembali yang
rusak tersebut.
Mahasiswa terhipnotis oleh kata-kata beliau “Subhanallah...”
ucap mahasiswa itu dengan melihat beliau.
Jadi
kita harus tau apa yang mau di ucapkan, mulut kita dengan impromtu. Harus
mempunyai kepeka’an yang tinggi, sangat di tekankan kepada semua pembicar di
televisi khususnya, waktu berbicara menggunakan mic harus kita kontrol di mana
waktu yang enak di dengar pleh audiens. Apakah mic ini jauh atau dekat dari
mulut kita. Berbicara itu harus kita olah jangan sampai kita los aja atau dalam
arti itu jangan sembarangan. Lah ini lah salah satu trip untuk kita semuanya
yang mau belajar cara mengontrol suara.
PROBLEMATIKA
SUARA
Dalam
menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara
seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.
Problematika Kualitas Suara
Penyiar atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah
semestinya karakter itu merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara
yang lalu terdengar kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya
sudah diketahui maka perlu dicari jalan keluarnya.
a. Suara parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka penyebabnya ada 2
:
·
Gejala
gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
·
Pengucapan
suara yang berlebih-lebihan, misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya
beberapa alat ucap menjadi tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa
yang enak. Untuk mengatasinya diperlukan istirahat.
b. Suara tipis
Suara tipis yang terdengar lemah biasanya disebabkan oleh mekanisme
penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan pembiasaan penyuaraan
secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat lemahnya suara
ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya olah alat ucap
mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan menutup
hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara kuat-kuat.karena, bisa
jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di hidung.
c. Suara pecah
Bayangkan seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang
terjadi suaranya bakal pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa.
Dan tidak bermelodi sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik
pernapasan yang benar, penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan
ditargetkan untuk kesan tertentu.
2. Problematika Penyuaraan
a. Monoton
Kegagalan untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan
tuturan yang monoton. Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan
tinggi rendahnya cara penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis.
Seringkali gaya monoton ini akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi
lain tuturan seperti ini akan menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang
cenderung monoton perlu memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b. Miskin Nada
Beberapa orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu
ke itu juga. Kalau tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar
adalah ketidakwajaran. Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak
menghasilkan rnakna apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan
ketahuan aslinya sedikit merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan
nada dasar yang mampu disuarakannya.
c. Singsong
Gaya ini hanya layak bagi penyiar "disc jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi
tuturan. Tempo yang tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan
bagian dari ciri singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak
bernuansa DJ, maka sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya
tuturan dengan rentang nada yang wajar saja.
d. Pola Akhiran
Tak sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian
akhir sebuah kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama
sekali dihilangkan.
e. Menderu
Ada penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu
dengan memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya
yang dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh
saja, tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3.
Problematika Pemapasan
Pemapasan yang keliru akan melahirkan bunyi tuturan yang kurang
enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan bernapas dengan dada ketika
siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi problema :
a.
Suara
berdesah napas
Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe pastikan tak
mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati suaranya secara
detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah membentuk diri kendala
seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu tak dapat dihilangkan
sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan udara dari dada atau
diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak teratasi maka
diperlukan terapi medis.
b.
Suara
tanpa daya
Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan pada otot-otot
di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam konsep tujuan
penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran (atau siapa
audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan pemapasan
diafrakma untuk mengatasinya.
Wawancara
adalah cara membujuk orang untuk menyatakan sesuatu dengan sebenarnya.
Pekerjaan
atau tugas mengeluarkan atau memancing informasi atau pernyataan yang benar ini
untuk kepentingan para penonton / pemirsa.
Wawancara
atau talk show di TV lebih transparan / terbuka dari pada di radio.
Penjelasan
dari yang diwawancarai atau nara sumber ( NS ) apabila menunjukan keraguan atau
kurang meyakinkan akan terlihat jelas dari gerak mata atau senyum yang di
tahan. Sebaliknya seringkali kita melihat diberbagai kesempatan, seorang
pewancara / pembawa acara / MC seolah – olah kehilangan pegangan, kaku dan
bingung tak tahu apa yang harus diperbuat ketika tiba-tiba saja dihadapkan pada
situasi yang kurang menyenangkan, Gaduh, banyak orang memberikan perintah harus
begini begitu, narasumber belum datang, susunan acara berubah dan lain-lain.
Seorang
pewawancara atau pembawa acara, apa yang bisa disebut sebagai komunikator
dituntut pengetahuan, pengalaman / jam terbang yang luas, tegas bicaranya lugas
tapi luwes, keterangannya akurat, spontanitas tinggi mampu mengahadapi situasi
mendadak serta mampu bergaya menawan untuk menyelesaikan masalah yang muncul.
Dilihat
dari banyaknya tuntutan semacam ini, maka dapat dipahami siapa saja yang akan
memasuki dunia dan profesi sebagai PA/MC harus memiliki modal yang banyak
diantaranya:
1.
Berpendidikan
dan berpengatahuan umum yang luas
2.
Kemampuan
berbahasa Indonesia atau inggris yang baik
3.
Tampil
menawan dan ramah
4.
Cekatan
dan sabar
5.
Mampu
memimpin acara
Karena
tampil di media Audio Visual, maka sebaiknya PA/MC:
1.
Tidak
cacat fisik / mental
2.
Tidak
memilki kebiasaan kebiasaan aneh ( lagena, pendono) mislanya sering melet
melet.
3.
Tidak
terkesan menggurui.
Untuk
membangun komunikasi yang buisa menghidupkan situasi wawancara, sebaiknya PA/MC
:
1.
Jangan
puas dengan daftar pertanyaan yang sudah dibuat,
akan mati situasinya.
2.
Hindarkan
sifat pengulangan suatu pertanyaan
3.
Lakukan
pendekatan kepada narasumber ( kalau belum kenal ) agar wawancara gayeng
4.
Hindari
pertanyaan yang bertele-tele / panjang
5.
Berperanlah
sebagai orang yang belum / tidak mengerti apa-apa soal materi yang dibahas.
6.
Jadilah
anda sebagai orang yang menyenangkan bagi narasumber
7.
Jangan
sering-sering menginterupsi pembicaraan narasumber
8.
Jangan
menganggap setiap jawaban NS tidak memuaskan.
Bagaimana
seorang PA/MC tampil, apa yang diucapkan, bagaimana cara mengatakannya, juga
merupakan tips penting yang harus diperhatikan untuk mencapai komunikasi yang
sukses. Seorang PA/MC yang baik mamlou menganngkat acara yang dibawakan
sehingga memberi warna dan kesan yang mendalam bagi Audience / beberapa hal
yang perlu diperhatikan:
1.
Hendaknya
datang ke tempat acara minimal 1 jam sebelum acara dimulai untuk Cek dan Ricek
susunan acara, Mikrphone dan tempat duduk tamu tamu penting.
2.
Menguasai
materi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual.
3.
Menggunakan
bahasa Indonesia baik dan benar.
4.
Berpakaian
sopan yang disesuaikan dengan acara
5.
Bersikap
luwes, sopan dan ramah
Seorang
PA/ MC diharapkan memilki sifat Extrovert dan bukan Introvert :
1.
Extrovert
: orang yang terbuka, bisa bertukar pikiran dengan siapa saja, enak bergaul dan
menyenangkan.
2.
Introvert
: orang yang bersifat tertutup, selalu cemberut, sulit berdialog, susah
mengeluarkan pendapat, amat sangat pendiam, pendendam dan sifat sifat lain yang
tidak mengguntungkan dalam pergaulan.
AA
Gym dalam buku tinjauan terhadap retorika AA Gym yang ditulis Komarruddin Cholil,
halaman 84, memberikan tips cantik untuk menjaga penampilan didepan publik:
1.
Kenali
Audience, apakah termasuk kelompok eksekutif, remaja, orang tua, majelis ta’lim
2.
Kenakan
pakaian yang paling sesuai dengan suasana, materi acara dan Audince
3.
Pilihlah
pakaiaan yang nyaman, jangan terlalu sempit atau membuat gerah
4.
Berpakaian
yang sederhana dan tidak berlebihan
5.
Pakaian
yang dikenakan bersih, rapi dan serasi
6.
Sepatu
yang akan dipakai disemir dahulu
7.
Pastikan
bercermin sebelum tampil atau bertanay kepada / istri / suami/ teman / sahabat,
apakah sudah rapi.
8.
Lakukan
cek-ricek terhadap penampilan
9.
Niatkan
berpakaian untuk menghormati audience sehingga akan benilai Ibadah.
10.
Hindari
perhiasan / acesories yang berlebihan
Kebersihan,
rapi itu termasuk dari presenter. Tadi udah di singgung bahwa tehnik berbicara
itu tidak pakai di buat-buat, kalau di buat oleh dunia lawak sih gak masalah.
Sambil tertawa audient yang mendengarkan suara beliau “haa... haaa... hhaa...”
jadi seorang host atau presenter tidaklah mudah seperti yang saya bayangkan
dalam pikiran, seorang presenter harus di biasakan berbicara yang benar dalam
kehidupan yang nyata karena bisa mempengaruhi berbicara anda.
Lah
mudah-mudah tak doa kan dari kalian bisa nyangkut ‘kayak pohon aja nyangkut’
menjadi presenter 1 dari 2 kalian, meskipun tidak semuanya. Dengan ucapan Bapak
Addin tadi semua anak-anak KPI A1 menyahuti “aammiinnnn...” dengan serempak,
mudah-mudahan doa tadi di kabulkan oleh Allah SWT. meskipun tidak semuanya, ada
kamera alat ini sangat jenius dan bisa melaporkan seluruh keadaan, kondisi
wajah anda, itu sangat jujur. Gak ada yang jelek jadi bagus kecuali kalau sudah
di poles dengan macam-macam Mahasiswa menyahuti lagi dengan kata yang biasa di
ucapkan dan aplikasinya banyak yang punya yaitu “360,” kalau situasi
wajah anda cantik, manis, atau kamera fes ya di laporkan dengan jujur.
Saya
dahulu menurut juri-juri waktu tampil itu ‘Alhamdulillah’ saya kamera
fesh, saya tidak menduga, karena sebelumnya yang 11 tahunnya di radio,
pengalaman di radio bukan di televisi, jadi saya tidak mengerti. Apakah saya
ini kamera fesh atau tidak saya tidak ngerti. Sehingga pada waktu tes seleksi
sama kamera, saya ini lulus karena wajah saya kamera fesh, bukan baby fesh. Kemudian
saya layak dan di terima, beliau berdoa yang mana biasanya di baca semua orang
artinya yang menjaga anggota tubuh dan panca indra seperti : mata,
hidung, mulut dan telinga. Berbica di depan audien juga tidak boleh ragu-ragu,
harus meyakinkan audiennya. Beda, pemirsa di rumah juga merasakan “waduh
subhanallah indah sekali orang ini mengucapkan kata-katanya, mantap!!.”
Apabila
presenter mengingat-ingat kata perkata yang sudah di tulis, di tengah
perjalanan ketika berbicara tidak lancar akan hancur, maka kita harus mengambil
kebijakan sendiri dan harus menyakinkan audient agar percaya, tertarik kepada
orangnya tersebut. Ada S2 dari IAIN yang
sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UIN SA) ketika
menyampaikan pidato dan mukaddimahnya beliau ini tidak berani menatap kamera
jadi matanya mengedip-ngedipkan terus, sambil melet-melet. Dari hal inilah yang
di khawatirkan apabila di televisi terjadi seperti itu, hindarilah kebiasaan
yang jelek tersebut menjadi baik, seorang host atau presenter juga bagus dari
penampilan terutama wajah. Karena wajah apabila tidak cantik atau ganteng,
meskipun suaranya enak di dengar. Tetapi wajahnya tidak cantik maka tetap saja
tidak bisa menjadi presenter di televisi. Ada yang suaranya cempreng tetapi
orangnya cantik atau ganteng, orang ini bisa jadi presenter di televisi.
Padahal
yang paling penting suaranya enak, bukan karena wajah yang kurang bagus. Menyampaikan
informasi juga mengunakan ekspresi wajah, ketika susah ya dengan ekspresi susah
dan sebaliknya apabila senang ya dengan senang ekspresinya. Misalnya meninggalnya
Olga
masak mengucapkan sambil senyum “atas meninggalnya Olga saya
turut perduka cita ya...?,”
salah
satu anak di dalam kelas ini bertanya kepada Bapak Addin,
“Pak saya ini masih bingung, kata teman saya jadi presenter itu
ngomong biasa..? karena teman saya ini sudah menjadi host atau presenter Pak!,”
dengan wajah yang masih bingung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar