Selasa, 28 April 2015

Thank You 365

Langkahku tak membuat berhenti untuk masuk perkuliahan Bapak separuh baya itu. Pukul 11.30 WIB hujan membasahai kos’an teman aku yang bernama Azka Azkiyatul Hilmiyah, hujan yang tak kunjung redah, di tengah-tengah air hujan yag begitu deras, begitu pula perbincangan saya, Azka dan Nafis semakin heboh.
Ujar Nafis “mesti kalau siang itu hujan?,” sambil mengengam bantal yang ada di kasur.
Sahutku “mungkin musim hujannya  belum selesai neng...?,” melihat keadaan yang ada di luar.
“tapi kok kenapa kalau wktunya Pak Prof Ali itu hujan neng...?,” sahut si Azka “wah ini bisa buat cerita lagi ya... hujan-hujan, berangkat ke kampus.”
“waduh udah jam 11.43 neng...” sahutku sambil melihat jam tangan, yang ada di tangan kiriku.
Semua anak-anak kebingungan mau siap-siap sholat dhuhur, satu per satu mengambil air wudhu. Waktu saya sholat eh tiba-tiba azka yang ada di depan saya waktu sholat, mencobah menganggu aku.
            “mama, nafis lho prei gak sholat... tapi puasa jadi batal ya maa...” sambil melihat aku sholat, agar batal sholatnya. Aku lagi khusyu’nya menjalani sholat dhuhur ini. Saya hanya ‘tersenyum’ azka melihatku.
            “hheee... mama lho tertawa... fis...?,” ujarnya sambil tertawa kepada nafis dengan tingkah laku yang aneh di atas kasurnya.
Sebelum mengerjakan sholat, ngobrol-ngobrol sambil mendengarka lagu ‘hujan’ azka menyanyikan sembari membereskan koper yang mau berangkat pulang ke kampung halamannya di Gresik.
            “hujan-hujan datang lagi... hujan-hujan malam ini...” sahutku “ lho ini kan masih siang... gak ada ta yang hujan di siang hari neng...” sambil tertawa melihati gadis polos itu.
Melihat cuaca yang di luar masih mendung yang tak mungkin harus aku terjang dengan berjalan, saya membawah motor ke kos’an azka, karena habis dari RS. Islam Jemursari. Mengantarkan surat dari Majalah Muslimat NU, motor kesayangan saya yang selalu menemani setiap harinya terguyur hujan yang lebat yang di iringi angin yang kencang.
            “maaa motor pean masuk kan ke dalam aja..?,” sahutnya dengan merasa gak enak kepadaku.
            “udah, biarin saja si motor itu di luar biar sekalian mandi... heee.. hee... kan si dia gak pernah aku mandi’in mbk...” jawabku tertawa sampai gak bisa diam lagi.
Bismillah, berangkat kuliah ya neng.
“wes aku bawah motor aja neng.. pean sama nafis jalan gak papa ta...” ujarku merayu kepada kedua temanku.
“iya, gak papa kok.. pean bawah’o motor...” sahut azka.
“aku bawah motor karena di jalan waktu masuk ke kampus di gerbang kecil yang cukup orang satu itu, mesti banjir neng... dan keadaanku pakai sepatu yang gak tahan air, takut e nanti bawah... heee.. hee...” tanyaku tertawa menutupi bagian mulutku.
Cepat-cepat bergegas menuju kampus impin saya yang mana dulu sangat perharap kuliah di IAIN yang sekarang udah ganti UIN SA. Saya sangat bangga bisa masuk di kampus itu. Mengendarai motor kesayanganku yang selalu menemani perjalanan hampir setiap hari bersama motor bebek. Dengan hujan-hujan menelusuri perjalanan hingga 200 meter dari kos’an gadis yang polos itu, menuju ke arah kampus tercinta. Yang aku idam-idam kan waktu SMA dahulu.
            “Azka, Nafis aku berangkat duluan ya... hati-hati di jalan ya sayung,” kataku sambil melambaikan tangan kiri kepadanya, sama mengayun sepeda motor.
Mengendarai motor menuju kampus kira-kira 40 km per jam, tak sangkan memasuki gerbang yang menunjukkan jalan ke Gedung Dakwah A itu,
            “eehh.. lah kok banjir kampus, aku takut kalau mati. Karena motor ini belum aku servis.” Hati berkata dan wajah ini cemas akan mogok motornya.
Bismillah, aku pasti bisa melewati dengan baik.
“mudah-mudahan tidak mogok di jalan ya Allah.” berdoa di tengah jalan
Sesampai di Gedung Dakwah A, di perjalanan air perjatuhan sampai membasahi tubuhku yang gendut ini hingga setengah basah. Mencari tempat parkir di depan Gedung Dakwah B, sama mata melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata tempat parkirannya sudah penuh semuanya. Akhirnya saya memutuskan parkir di belakang Gedung Adab yang tempatnya di bersebelahan Gedung Dakwah B. Di tengah perjalanan menuju ke tempat parkir yang biasanya aku parkir setiap harinya.
            “hah.. jam 12.10 masih kurang 10 menit, aku tergesah-gesah menaruh sepeda motor kesayanganku,” dengan keadaan hujan-hujan melihat jam tangan yang ada di lengan kiriku.
Berlari-lari kecil menuju kelas lantai 2 tepatnya di sebelah kanan anak tangga yang aku jalani hampir setiap hari aku ketemu anak tangga itu.
“seperti orang aja ketemu terus haa.. haa...” hati berbicara dengan keadaan tidak sadar.
Melangkahkan kaki setengah berlari menuju kelas, aku menoleh kebelakang eh ternyata ada Azka, Nafis, dan Nitra masih di belakangku.
            “Alhamdulillah masih ada temannya untuk terlambat, haa.. haa..” berkata sendiri sembari melihat mereka yang ada di belakangku.
Sampai di tujuan terakhir yaitu di ruang D1.112, aku tenggok ada mas farid di dalam kelas tersebut.
            “mas kelas’e kosong ta...?,” tanya Azka kepada mas Farid dengan wajah heran.
            “iiyah.” Sahut mas berkaca mata itu.
Sambil menunggu Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu, bertemu anak-anak lain, jurusan R-TV. Melepas rindu kepada temanku yang jarang masuk dari semester 1 itu, hee.. hee... langsung di peluk dengan erat sampai ndak bisa bernafas.
            “neng jangan erat-erat nanti aku mati gimana..” ujarku waktu di peluknya.
            “biarin ben mati aja...” sahutnya dengan tertawa melihat aku.
Lalu ketika masuk di ruang D1.112 itu, Titin nampaknya sakit dan banyak cerita kepada Azka, Nafis, dan saya.
            “aku sakit mag neng.. dulu waktu SMA aku sakit magkronis...” suara yang lembut keluar dari mulut Titin.
            “pean telat makan ya..” sahut si Azka menatap wajah si suara lembut itu.
            “iya neng, aku sering telat makan..” dijawab dengan suara yang lembut kepada Azka.
Gadis yang mempunyai kelembutan suara itu, membuka sebuah roti ‘sari roti’ yang berisi 4 sobek’an.
            “waduh pas buat  kita berempat, aku, Azka, Nafis, dan Titin,” ujarku melihat Titin menyobek satu-persatu untuk di berikan kepada anak-anak.
Setelah di berikan roti dari Titin itu, akan aku bagi dengan teman yang selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Yaitu ‘Laily Romadhona’ aku suapin ke mulutnya sambil memberi cokelat pada pipi yang cempluk dan di penuhi sama jerawatnya.
Hampir lama bercanda dengannya, sampai lupa bahwa ada perkuliahan Pak Prof, yang tidak boleh telat masuk di kelasnya. Ketika mau masuk di kelas eh eh.. ternyata Bapak yang sudah beruban sudah datang di kelas, aku kebingungan melihatnya.
“kenapa Pak Prof ini kok telepon kok tumben, dan kok di depannya ada Mas Farid..” aku bertanya-tanya sendiri melihat kejadian itu.
Semua mata tertuju kepada Pak Prof Ali dan Mas Farid
“otak ini masih bertanya-tanya terus..” setelah aku amati saat beliau berbicara ternyata beliau sedang menelpon orang tua Mas Farid.
Di selah-selah samar-samar pembicaraanya, sebelum menelpon ibunya, beliau menelpon Ayahnya. Tetapi tidak di angkat-angkat sama Ayahnya Mas Farid, akhirnya beliau menelpon Ibunya. Terdengar pembicaraan beliau
“bahwa farid itu cerdas bu.. kenapa kalau di jam saya jarang masuk perkuliahan dan anak ini kemana bu..?,” sedengarku saat pembicaraannya di telepon.
            “katanya tidak ada kuliah pak, dan farid tidur di rumah..” jawab ibunya mas farid.
            “iya ta rid.. kamu di rumah..” sahut Pak Prof melihat Mas Farid yang sedang menekuk kepala ke meja tepatnya di depan Dosennya.
            “iya pak.. saya tidur di rumah.” Suara yang samar-samar keluar dari mulutnya.
Jadi gini ya bu, tolong anak ini di semangati kuliah karena mulai khitobah 1,2, dan 3 tidak lulus bu.. dan mungkin Dosennya farid yang pertama kali menelpon njenengan. Dan farid ini kurang gizi, saya mohon ibu memberikan lebih banyak gizi ya bu.. itulah sekilas mendengar percakapannya dengan Ibunya Mas Farid.
Anak yang memakai kaca mata ini selalu menundukkan kepalanya di depan Pak Prof, dia tidak PD mungkin, tapi semua orang harus PD. Lalu Bapak yang memakai baju kemeja bergaris-garis hitam itu bertanya kepadanya selalu menundukkan kepalanya di atas meja yang di depannya ada 3 buku, mungkin dari jarak aku duduk di depan 2 bangku dari depan tersebut kira-kira 5 meteran. Tidak bisa melihat apa judul bukunya, yang aku lihat cuman ‘TERIMA KASIH’ karena kata-kata yang paling besar sendiri yang terdapat di buku Bapak yang pernah ngajar di sekolahan SMA PGRI wonokromo itu.
Beliau ini saat menerima telepon dari ibunya mas farid dengan nada santai dan cara duduknya juga, saudara sekalian ada buku yang menarik yang di tulis oleh “John Kralik, judulnya: 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life.” Dengan menulis di papan yang awalnya bersih tidak ada noda tersebut. (kayak baju saja ha..).
Setelah menulis di papan tulis, beliau berjalan melangkahkan kakinya dengan santai dan pelan-pelan “tuk,tuk,tuk” dengan suara sepatu militer itu menuju di depan saya. Dan mengucapkan terima kasih 365 selama perhari

sembari itu Bapak memakai ikat pinggang itu menyuruh saya untuk membaca buku yang judulnya 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life itu. Dengan suara takut dan samar-samar-membacanya.
Memang Fajriyah anaknya malu dan penakut, tetapi ingin berubah menjadi bisa lebih baik.
 Lalu 30 menitan ada 6 anak yang terlambat masuk di kelas diantaranya: Hakim, Hisyam, Handika, Faizin, dan Mas Ilham. 6 anak ini di suruh ruku’ dan sujud membaca
subhanallahi walhamdulillahiwalaa ilahailallah wawahuakbar” ucapan Profesor itu, karena udah terlambat.
Ada beberapa anak yang ruku’nya aneh, ada yang mbungkuk, dan ada yang benar, padahal kalau kuliah tidak boleh memakai sandal, lak sama saja kalau jalan-jalan di swalayan atau bepergian saja. Udah di peringati beberapa kali oleh Profesor yang di siplin itu, bahwa tidak boleh memakai sandal. Anak sekolah saja di wajibkn memakai sepatu. Masak yang besar gak memakai, tukang becak saja memakai sepatu kalah ya sama ‘Mahasiwa’ ya.. yang memakai sandal itu adalah Mas Ilham.
Di suruh sujud 150 kali, biar semuanya itu sadar atas kesalahannya. Ada anak laki-laki yang memakai kuncir seperti anak wanita saja, Profesor menjelaskan bahwa senyum manusia itu senyum Tuhan.
Tiba-tiba Bapak tujuh anak ini mengampiri Nitra dan bertanya kepadanya
            “kamu sakit ta..?,” tanyanya kepada nitra sambil melihatnya.
            “iya sakit prof..” jawabnya dengan nada rendah dan lembut.
            “sakit apa kamu nit..?,” ungkapnya lagi.
            “sakit lambung,” ujarnya sambil lemas badannya.
            “udah periksa,” tanyanya lagi. “udah kok Prof..” sahutnya.
“di kasih obat apa..? pastinya obat buat lambung ya.. kayak mylanta dan lain-lain” tanyanya Prof yang terakhir kalinya kepada Nitra.
Dengan jawaban senyuman yang di berikan oleh Nitra kepada Bapak penulis Do’a-do’a bahagia itu.
Satu persatu teman-temanku terbangun dari sujud lamanya tadi, kira-kira 15 menit lah sujud itu berakhir. Yang pertama kali bangun Hisyam di lanjutkan Handika, lalu Faizin di ikuti oleh Hakim dan yang terakhir Mas Ilham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar