Langkahku
tak membuat berhenti untuk masuk perkuliahan Bapak separuh baya itu. Pukul
11.30 WIB hujan membasahai kos’an teman aku yang bernama Azka Azkiyatul
Hilmiyah, hujan yang tak kunjung redah, di tengah-tengah air hujan yag begitu
deras, begitu pula perbincangan saya, Azka dan Nafis semakin heboh.
Ujar Nafis “mesti kalau siang itu hujan?,” sambil mengengam bantal
yang ada di kasur.
Sahutku “mungkin musim hujannya
belum selesai neng...?,” melihat keadaan yang ada di luar.
“tapi kok kenapa kalau wktunya Pak Prof Ali itu hujan neng...?,”
sahut si Azka “wah ini bisa buat cerita lagi ya... hujan-hujan, berangkat ke
kampus.”
“waduh udah jam 11.43 neng...” sahutku sambil melihat jam tangan,
yang ada di tangan kiriku.
Semua
anak-anak kebingungan mau siap-siap sholat dhuhur, satu per satu mengambil air
wudhu. Waktu saya sholat eh tiba-tiba azka yang ada di depan saya waktu sholat,
mencobah menganggu aku.
“mama, nafis lho prei gak sholat...
tapi puasa jadi batal ya maa...” sambil melihat aku sholat, agar batal
sholatnya. Aku lagi khusyu’nya menjalani sholat dhuhur ini. Saya hanya ‘tersenyum’
azka melihatku.
“hheee... mama lho tertawa...
fis...?,” ujarnya sambil tertawa kepada nafis dengan tingkah laku yang aneh di
atas kasurnya.
Sebelum
mengerjakan sholat, ngobrol-ngobrol sambil mendengarka lagu ‘hujan’ azka
menyanyikan sembari membereskan koper yang mau berangkat pulang ke kampung
halamannya di Gresik.
“hujan-hujan datang lagi...
hujan-hujan malam ini...” sahutku “ lho ini kan masih siang... gak ada ta yang
hujan di siang hari neng...” sambil tertawa melihati gadis polos itu.
Melihat
cuaca yang di luar masih mendung yang tak mungkin harus aku terjang dengan
berjalan, saya membawah motor ke kos’an azka, karena habis dari RS. Islam
Jemursari. Mengantarkan surat dari Majalah Muslimat NU, motor kesayangan saya
yang selalu menemani setiap harinya terguyur hujan yang lebat yang di iringi
angin yang kencang.
“maaa motor pean masuk kan ke dalam
aja..?,” sahutnya dengan merasa gak enak kepadaku.
“udah, biarin saja si motor itu di
luar biar sekalian mandi... heee.. hee... kan si dia gak pernah aku mandi’in
mbk...” jawabku tertawa sampai gak bisa diam lagi.
Bismillah,
berangkat kuliah ya neng.
“wes aku bawah motor aja neng.. pean sama nafis jalan gak papa
ta...” ujarku merayu kepada kedua temanku.
“iya, gak papa kok.. pean bawah’o motor...” sahut azka.
“aku bawah motor karena di jalan waktu masuk ke kampus di gerbang
kecil yang cukup orang satu itu, mesti banjir neng... dan keadaanku pakai
sepatu yang gak tahan air, takut e nanti bawah... heee.. hee...” tanyaku
tertawa menutupi bagian mulutku.
Cepat-cepat
bergegas menuju kampus impin saya yang mana dulu sangat perharap kuliah di IAIN
yang sekarang udah ganti UIN SA. Saya sangat bangga bisa masuk di kampus itu.
Mengendarai motor kesayanganku yang selalu menemani perjalanan hampir setiap
hari bersama motor bebek. Dengan hujan-hujan menelusuri perjalanan hingga 200
meter dari kos’an gadis yang polos itu, menuju ke arah kampus tercinta. Yang
aku idam-idam kan waktu SMA dahulu.
“Azka, Nafis aku berangkat duluan
ya... hati-hati di jalan ya sayung,” kataku sambil melambaikan tangan kiri
kepadanya, sama mengayun sepeda motor.
Mengendarai
motor menuju kampus kira-kira 40 km per jam, tak sangkan memasuki gerbang yang
menunjukkan jalan ke Gedung Dakwah A itu,
“eehh.. lah kok banjir kampus, aku
takut kalau mati. Karena motor ini belum aku servis.” Hati berkata dan wajah
ini cemas akan mogok motornya.
Bismillah,
aku pasti bisa melewati dengan baik.
“mudah-mudahan tidak mogok di jalan ya Allah.” berdoa di tengah
jalan
Sesampai
di Gedung Dakwah A, di perjalanan air perjatuhan sampai membasahi tubuhku yang
gendut ini hingga setengah basah. Mencari tempat parkir di depan Gedung Dakwah
B, sama mata melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata tempat parkirannya sudah
penuh semuanya. Akhirnya saya memutuskan parkir di belakang Gedung Adab yang
tempatnya di bersebelahan Gedung Dakwah B. Di tengah perjalanan menuju ke
tempat parkir yang biasanya aku parkir setiap harinya.
“hah.. jam 12.10 masih kurang 10
menit, aku tergesah-gesah menaruh sepeda motor kesayanganku,” dengan keadaan
hujan-hujan melihat jam tangan yang ada di lengan kiriku.
Berlari-lari
kecil menuju kelas lantai 2 tepatnya di sebelah kanan anak tangga yang aku
jalani hampir setiap hari aku ketemu anak tangga itu.
“seperti orang aja ketemu terus haa.. haa...” hati berbicara dengan
keadaan tidak sadar.
Melangkahkan
kaki setengah berlari menuju kelas, aku menoleh kebelakang eh ternyata ada
Azka, Nafis, dan Nitra masih di belakangku.
“Alhamdulillah masih ada temannya
untuk terlambat, haa.. haa..” berkata sendiri sembari melihat mereka yang ada
di belakangku.
Sampai
di tujuan terakhir yaitu di ruang D1.112, aku tenggok ada mas farid di dalam
kelas tersebut.
“mas kelas’e kosong ta...?,” tanya
Azka kepada mas Farid dengan wajah heran.
“iiyah.” Sahut mas berkaca mata itu.
Sambil
menunggu Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu, bertemu
anak-anak lain, jurusan R-TV. Melepas
rindu kepada temanku yang jarang masuk dari semester 1 itu, hee.. hee...
langsung di peluk dengan erat sampai ndak bisa bernafas.
“neng
jangan erat-erat nanti aku mati gimana..” ujarku waktu di peluknya.
“biarin
ben mati aja...” sahutnya dengan tertawa melihat aku.
Lalu ketika masuk di ruang D1.112 itu, Titin
nampaknya sakit dan banyak cerita kepada Azka, Nafis, dan saya.
“aku
sakit mag neng.. dulu waktu SMA aku sakit magkronis...” suara yang lembut
keluar dari mulut Titin.
“pean
telat makan ya..” sahut si Azka menatap wajah si suara lembut itu.
“iya
neng, aku sering telat makan..” dijawab dengan suara yang lembut kepada Azka.
Gadis yang mempunyai kelembutan suara itu, membuka
sebuah roti ‘sari roti’ yang berisi 4 sobek’an.
“waduh
pas buat kita berempat, aku, Azka,
Nafis, dan Titin,” ujarku melihat Titin menyobek satu-persatu untuk di berikan
kepada anak-anak.
Setelah di berikan roti dari Titin itu, akan aku
bagi dengan teman yang selalu menemani aku dalam suka maupun duka. Yaitu ‘Laily
Romadhona’ aku suapin ke mulutnya sambil memberi cokelat pada pipi yang cempluk
dan di penuhi sama jerawatnya.
Hampir lama bercanda dengannya, sampai lupa bahwa
ada perkuliahan Pak Prof, yang tidak boleh telat masuk di kelasnya. Ketika mau
masuk di kelas eh eh.. ternyata Bapak yang sudah beruban sudah datang di kelas,
aku kebingungan melihatnya.
“kenapa
Pak Prof ini kok telepon kok tumben, dan kok di depannya ada Mas Farid..” aku
bertanya-tanya sendiri melihat kejadian itu.
Semua mata tertuju kepada Pak Prof Ali dan Mas
Farid
“otak
ini masih bertanya-tanya terus..” setelah aku amati saat beliau berbicara
ternyata beliau sedang menelpon orang tua Mas Farid.
Di selah-selah samar-samar pembicaraanya, sebelum
menelpon ibunya, beliau menelpon Ayahnya. Tetapi tidak di angkat-angkat sama
Ayahnya Mas Farid, akhirnya beliau menelpon Ibunya. Terdengar pembicaraan
beliau
“bahwa
farid itu cerdas bu.. kenapa kalau di jam saya jarang masuk perkuliahan dan
anak ini kemana bu..?,” sedengarku saat pembicaraannya di telepon.
“katanya
tidak ada kuliah pak, dan farid tidur di rumah..” jawab ibunya mas farid.
“iya
ta rid.. kamu di rumah..” sahut Pak Prof melihat Mas Farid yang sedang menekuk
kepala ke meja tepatnya di depan Dosennya.
“iya
pak.. saya tidur di rumah.” Suara yang samar-samar keluar dari mulutnya.
Jadi gini ya bu, tolong anak ini di semangati kuliah
karena mulai khitobah 1,2, dan 3 tidak lulus bu.. dan mungkin Dosennya farid
yang pertama kali menelpon njenengan. Dan farid ini kurang gizi, saya mohon ibu
memberikan lebih banyak gizi ya bu.. itulah sekilas mendengar percakapannya
dengan Ibunya Mas Farid.
Anak yang memakai kaca mata ini selalu menundukkan
kepalanya di depan Pak Prof, dia tidak PD mungkin, tapi semua orang harus PD. Lalu
Bapak yang memakai baju kemeja bergaris-garis hitam itu bertanya kepadanya
selalu menundukkan kepalanya di atas meja yang di depannya ada 3 buku, mungkin
dari jarak aku duduk di depan 2 bangku dari depan tersebut kira-kira 5 meteran.
Tidak bisa melihat apa judul bukunya, yang aku lihat cuman ‘TERIMA KASIH’
karena kata-kata yang paling besar sendiri yang terdapat di buku Bapak yang
pernah ngajar di sekolahan SMA PGRI wonokromo itu.
Beliau ini saat menerima telepon dari ibunya mas
farid dengan nada santai dan cara duduknya juga, saudara sekalian ada buku yang
menarik yang di tulis oleh “John
Kralik, judulnya: 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude
Changed My Life.” Dengan menulis di papan
yang awalnya bersih tidak ada noda tersebut. (kayak baju saja ha..).
Setelah menulis di papan tulis, beliau berjalan
melangkahkan kakinya dengan santai dan pelan-pelan “tuk,tuk,tuk” dengan
suara sepatu militer itu menuju di depan saya. Dan mengucapkan terima kasih 365
selama perhari
sembari itu Bapak memakai ikat pinggang itu
menyuruh saya untuk membaca buku yang judulnya 365 Thank You The Year The Simple Act Of Daily Gratitude
Changed My Life itu. Dengan suara takut dan samar-samar-membacanya.
Memang Fajriyah anaknya malu dan penakut, tetapi ingin
berubah menjadi bisa lebih baik.
Lalu 30 menitan ada 6 anak yang terlambat
masuk di kelas diantaranya: Hakim, Hisyam, Handika, Faizin, dan Mas Ilham. 6
anak ini di suruh ruku’ dan sujud membaca
“subhanallahi walhamdulillahiwalaa ilahailallah
wawahuakbar” ucapan Profesor itu, karena udah terlambat.
Ada beberapa anak yang ruku’nya aneh, ada yang mbungkuk, dan
ada yang benar, padahal kalau kuliah tidak boleh memakai sandal, lak sama saja
kalau jalan-jalan di swalayan atau bepergian saja. Udah di peringati beberapa
kali oleh Profesor yang di siplin itu, bahwa tidak boleh memakai sandal. Anak sekolah
saja di wajibkn memakai sepatu. Masak yang besar gak memakai, tukang becak saja
memakai sepatu kalah ya sama ‘Mahasiwa’ ya.. yang memakai sandal itu adalah Mas
Ilham.
Di suruh sujud 150 kali, biar semuanya itu sadar atas
kesalahannya. Ada anak laki-laki yang memakai kuncir seperti anak wanita saja,
Profesor menjelaskan bahwa senyum manusia itu senyum Tuhan.
Tiba-tiba Bapak tujuh anak ini mengampiri Nitra dan bertanya
kepadanya
“kamu sakit
ta..?,” tanyanya kepada nitra sambil melihatnya.
“iya sakit
prof..” jawabnya dengan nada rendah dan lembut.
“sakit apa
kamu nit..?,” ungkapnya lagi.
“sakit
lambung,” ujarnya sambil lemas badannya.
“udah
periksa,” tanyanya lagi. “udah kok Prof..” sahutnya.
“di kasih obat apa..? pastinya obat buat lambung
ya.. kayak mylanta dan lain-lain” tanyanya Prof yang terakhir kalinya kepada
Nitra.
Dengan jawaban senyuman yang di berikan oleh Nitra kepada
Bapak penulis Do’a-do’a bahagia itu.
Satu persatu teman-temanku terbangun dari sujud lamanya tadi,
kira-kira 15 menit lah sujud itu berakhir. Yang pertama kali bangun Hisyam di
lanjutkan Handika, lalu Faizin di ikuti oleh Hakim dan yang terakhir Mas Ilham.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar