Rabu, 08 April 2015

BIOGRAFI NY. CHASANAH MANSUR

NY. CHASANAH MANSUR
Peletak Dasar Administrasi dan Manejemen Muslimat
Nyonya Chasanah Mansur mulai aktif di Muslimat NU tahun 1950, di Jakarta. Ia sendiri kelahiran Indramayu, 87 tahun lalu. Waktu itu bangsa ini sedang mempertahankan kemerdekaan. Suaminya, KH. Mansur, adalah tokoh NU dan juga tokoh Masyumi. Belanda yang hendak kembali menjajah, menangkapi dan mengejar-ngejar tokoh-tokoh Masyumi, termasuk KH. Mansur . Namun keluarga ini berhasil meninggalkan kampung halaman di Indramayu, menuju Jakarta.
            Di Jakarta, Ny. Hasanah Mansur mulai terlibat aktif mengerakkan Muslimat NU. Tahun 1958 ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin Muslimat Wilayah DKI Jakarta sebagai ketua. Ia tercatat sebagai ketua periode keempat, setelah Ny. Wahid Hasyim, Ny. Zuhriana Madjid dan Ny. Murtadzidah Ahmad di tingkat pimpinan pusat, ia mulai terjun tahun 1962, mengurus bagian keuangan. Kariernya terus meningkat. Pada tahun 1967, Kongres IX Muslimat NU di Surabaya, memlih Ny. Chasanah Mansur sebagai sekertaris umum. Ketua umumnya, waktu itu, Ny. Mahmudah Mawardi. Jabatan ini diembannya sampai kongres berikutnya di Semarang tahun 1979. Ia mengakhiri pengabdiannya di Muslimat NU pada tahun 1989, saat berlangsungnya Kongres XII di Kaliurang (1989), karena usianya telah senja.
            Sebagai sekertaris, kesibukannya meningkat. Bukan hanya menangani masalah policy, tapi juga kegiatan-kegiatan teknis. Membuat notulasi, salah satunya. Apalagi sewaktu berlangsung kongres, kesibukan ini tambah banyak. “Ketika orang-orang tidur, saya masih bekerja merumuskan hasil-hasilnya,” kenangnya. Tapi pekerjaan itu bisa lancar kalau dilakukan sambil minum kopi. “ Kalau sudah minum kopi, rasanya tangan ini seperti menulis sendiri.” Ia kembali mengenang pengalamannya.
            Dalam dunia politik, Ny.cchasanah Mansur pernah duduk sebagai anggota MPRS, tepat pada saat berlangsungnya suksesi kepemimpinan nasional, dari Presiden Soekarno kepada Presiden Seoharto. Ia juga pernah mendapat kesempatan mengikuti program penelitian tentang Keluarga Berencana di India selama sebulan, tahun 1968. Program yang disponsori LKBN (sekarang BKKBN) itu diikuti oleh utusan berbagai organisasi wanita.
Ny. Chasanah Mansur dikenal sebagai peletak dasar-dasar administrasi umum dan keuangan dalam manajemen Muslimat. Hal itu karena latar belakang pendidikannya yang sangat cukup baik, untuk ukuran waktu itu. Selain belajar agama, adik KH. Imron Rosyadi, SH ini mendapat kesempatan belajar di Kartini School di kota Cirebon. Masa belajar sekolah setingkat SD ini tujuh tahun, dengan pengantar bahasa Belanda. Ia fasih melafazkan bahasa Belanda itu. Di jajaran Muslimat waktu itu, hanya ada dua perempuan yang fasih berbahasa Belanda. Selain dia, adalah Ny. Murtadziyah, katua priode pertama Muslimat NU DKI Jakarta.
Kartini school menetapkan  kriteria cukup ketat bagi calon muridnya. Kehidupan orang-tua murid dijadikan pertimbangan. Bila di lingkungan keluarga calon murid, bahasa komunikasinya tidak memakai bahasa Belanda, jangan harap bisa lolos. Ny. Chasanah Mansur hidup di lingkungan keluarga landraad. Ayahnya, KH.Abdullah Syafii, adalah seorang kepala penghulu di Cirebon.
             Dalam usia senja saat ini (87 tahun), Ny.Chasanah Mansur masih tampak segar. Dulunya beliau di kenal suka olahraga. Agak unik, memang, sebab olahraga yang di gemari Hasanah Mansur sewaktu belia adalah tenis. Ia bermain tenis dengan mengenakan kain, tidak pakaian olahraga seperti lazimnya orang sekarang . Suaranya masih lantang. Ingatannya masih tajam . Ia dapat mengingat  berbagai  periswa  penting yang dialaminya sewaktu masih aktif di Muslimat. Ia sendiri tidak mencatat  hari kelahirannya. ‘’Waktu itu memang tidak dicatat,’’ katanya mengingat-ingat. Teyapi tidak berarti hari kelahirannya tidak diingatnya sama sekali. Setidaknya, ada peristiwa yang menyertainya. ‘’Saya lahir pada saat hari lebaran besar,’’katanya mantap. Yang dimaksud lebaran besar adalah hari raya Idul Adha.
            Berbicara dengan Ny. Chasanah Mansur, kita dapat merasakan nuansa kehangatan dan keakraban. Ia masih seperti dulu. Canda dan tawa muncul di sela-sela pembicaraan seriusnya. Saat ini ia mengibarkan dirinya sebagai koper yang dapat dibawa-bawa. Delapan puteranya silih berganti membawanya, dari kediamannya di kawasan Jakarta Pusat, ke rumah masing-masing. Mereka memang tidak tinggal serumah, karena sudah berkeluarga. Ny.Chasanah Mansur tinggal bersama dua orang pembantu yang setia melayaninya.
                Hari-harinya ia lalui dengan berbagai amalan, di samping mengajar ibu-ibu di lingkungan sekitarnya. Membaca Al-Qur’an, kerinduannya yang rutin. Kerinduannya terhadap al-Khalik yang telah memberikan kehidupan yang hasanah di dunia, menyosngong hasnah berikutnya di akhirat kelak. 

       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar