NY. CHASANAH MANSUR
Peletak Dasar Administrasi dan Manejemen Muslimat
Nyonya Chasanah Mansur mulai aktif di Muslimat NU tahun 1950, di
Jakarta. Ia sendiri kelahiran Indramayu, 87 tahun lalu. Waktu itu bangsa ini
sedang mempertahankan kemerdekaan. Suaminya, KH. Mansur, adalah tokoh NU dan
juga tokoh Masyumi. Belanda yang hendak kembali menjajah, menangkapi dan
mengejar-ngejar tokoh-tokoh Masyumi, termasuk KH. Mansur . Namun keluarga ini
berhasil meninggalkan kampung halaman di Indramayu, menuju Jakarta.
Di Jakarta, Ny.
Hasanah Mansur mulai terlibat aktif mengerakkan Muslimat NU. Tahun 1958 ia
mendapatkan kepercayaan untuk memimpin Muslimat Wilayah DKI Jakarta sebagai
ketua. Ia tercatat sebagai ketua periode keempat, setelah Ny. Wahid Hasyim, Ny.
Zuhriana Madjid dan Ny. Murtadzidah Ahmad di tingkat pimpinan pusat, ia mulai
terjun tahun 1962, mengurus bagian keuangan. Kariernya terus meningkat. Pada
tahun 1967, Kongres IX Muslimat NU di Surabaya, memlih Ny. Chasanah Mansur
sebagai sekertaris umum. Ketua umumnya, waktu itu, Ny. Mahmudah Mawardi.
Jabatan ini diembannya sampai kongres berikutnya di Semarang tahun 1979. Ia
mengakhiri pengabdiannya di Muslimat NU pada tahun 1989, saat berlangsungnya
Kongres XII di Kaliurang (1989), karena usianya telah senja.
Sebagai
sekertaris, kesibukannya meningkat. Bukan hanya menangani masalah policy, tapi
juga kegiatan-kegiatan teknis. Membuat notulasi, salah satunya. Apalagi sewaktu
berlangsung kongres, kesibukan ini tambah banyak. “Ketika orang-orang tidur,
saya masih bekerja merumuskan hasil-hasilnya,” kenangnya. Tapi pekerjaan itu
bisa lancar kalau dilakukan sambil minum kopi. “ Kalau sudah minum kopi,
rasanya tangan ini seperti menulis sendiri.” Ia kembali mengenang
pengalamannya.
Dalam dunia
politik, Ny.cchasanah Mansur pernah duduk sebagai anggota MPRS, tepat pada saat
berlangsungnya suksesi kepemimpinan nasional, dari Presiden Soekarno kepada Presiden
Seoharto. Ia juga pernah mendapat kesempatan mengikuti program penelitian
tentang Keluarga Berencana di India selama sebulan, tahun 1968. Program yang
disponsori LKBN (sekarang BKKBN) itu diikuti oleh utusan berbagai organisasi
wanita.
Ny. Chasanah Mansur dikenal sebagai peletak dasar-dasar
administrasi umum dan keuangan dalam manajemen Muslimat. Hal itu karena latar
belakang pendidikannya yang sangat cukup baik, untuk ukuran waktu itu. Selain
belajar agama, adik KH. Imron Rosyadi, SH ini mendapat kesempatan belajar di
Kartini School di kota Cirebon. Masa belajar sekolah setingkat SD ini tujuh
tahun, dengan pengantar bahasa Belanda. Ia fasih melafazkan bahasa Belanda itu.
Di jajaran Muslimat waktu itu, hanya ada dua perempuan yang fasih berbahasa
Belanda. Selain dia, adalah Ny. Murtadziyah, katua priode pertama Muslimat NU
DKI Jakarta.
Kartini school menetapkan
kriteria cukup ketat bagi calon muridnya. Kehidupan orang-tua murid
dijadikan pertimbangan. Bila di lingkungan keluarga calon murid, bahasa
komunikasinya tidak memakai bahasa Belanda, jangan harap bisa lolos. Ny.
Chasanah Mansur hidup di lingkungan keluarga landraad. Ayahnya, KH.Abdullah
Syafii, adalah seorang kepala penghulu di Cirebon.
Dalam usia senja
saat ini (87 tahun), Ny.Chasanah Mansur masih tampak segar. Dulunya beliau di
kenal suka olahraga. Agak unik, memang, sebab olahraga yang di gemari Hasanah
Mansur sewaktu belia adalah tenis. Ia bermain tenis dengan mengenakan kain,
tidak pakaian olahraga seperti lazimnya orang sekarang . Suaranya masih
lantang. Ingatannya masih tajam . Ia dapat mengingat berbagai
periswa penting yang dialaminya
sewaktu masih aktif di Muslimat. Ia sendiri tidak mencatat hari kelahirannya. ‘’Waktu itu memang tidak
dicatat,’’ katanya mengingat-ingat. Teyapi tidak berarti hari kelahirannya
tidak diingatnya sama sekali. Setidaknya, ada peristiwa yang menyertainya. ‘’Saya
lahir pada saat hari lebaran besar,’’katanya mantap. Yang dimaksud lebaran
besar adalah hari raya Idul Adha.
Berbicara dengan
Ny. Chasanah Mansur, kita dapat merasakan nuansa kehangatan dan keakraban. Ia
masih seperti dulu. Canda dan tawa muncul di sela-sela pembicaraan seriusnya.
Saat ini ia mengibarkan dirinya sebagai koper yang dapat dibawa-bawa. Delapan
puteranya silih berganti membawanya, dari kediamannya di kawasan Jakarta Pusat,
ke rumah masing-masing. Mereka memang tidak tinggal serumah, karena sudah
berkeluarga. Ny.Chasanah Mansur tinggal bersama dua orang pembantu yang setia
melayaninya.
Hari-harinya
ia lalui dengan berbagai amalan, di samping mengajar ibu-ibu di lingkungan
sekitarnya. Membaca Al-Qur’an, kerinduannya yang rutin. Kerinduannya terhadap
al-Khalik yang telah memberikan kehidupan yang hasanah di dunia,
menyosngong hasnah berikutnya di akhirat kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar