Minggu, 19 April 2015

MENGETAHUI MESIN KECERDASAN

Haihaiiii... Ria balik lagii... Ria tau pasti bloggers kangen sama Ria yakaaaaan? Ihiy... Ria juga kangen kok sama kaliaaaaaan *apaseh*
Okeh... Ria dapet tugas lagi niii... ceritain tentang SUKSES! Tapi sebelumnya Ria curhat dulu jadi pagi-pagi sekitar jam 6 pagi, Ria siap-siap ngajar (gini-gini Ria guru yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, baik kepada orangtua, dan berguna bagi bangsa dan negara... haha!) kebetulan Ria sekarang ini tinggal sama nenek tercinta. Pas mau salim, nenek teriak-teriak...
nah loh! Kenapa coba nenekku?
            “Riaaaaa! Sini-sini! Ndaaaaaaaaang!” teriak nenekku.
            “opo o mbaaah? Opo oooooo?” sahutku sembari berlari menghampiri beliau.
            “liat-liat sini! Ada SM*SH ndek tipi! Kenapa hatiku cenat-cenut kepada kamu~~~” kata nenekku sambil menirukan gerakan-gerakan SM*SH.
            “aduh mbah.................”
Okeh lanjut. Akhirnya Ria terselamatkan oleh tarian eksotis nenekku. Oke. Berangkat. Cus.
Di tengah perjalanan menuju Sekolahan, Ria melihat Oom dan Tante lagi mesra-mesra’an di depan rumah
 Duh... nggarai iri...
“Ria!” tiba-tiba Tante menyapaku
“eh iya Te... kenapa? Ada apa? Sama siapa? Bagaimana? Apa kabar? Sekian, terimakasih”
“apa seh Ya? Ini loo... Tante punya sangu buat kamu... Lumayan buat bayar baju” kata Tante sambil menyelipkan enam lembar duit seratus ribuan.
“aduh tante... ga usah repot-repot” kataku.
“halah kayak apa ae seh nduk... wes, kamu ngajar kan? Ndang berangkat!” ujar Tante.
“iya Te, Assalamu’alaikum”

Finally. Akhirnya Ria sampai di Sekolah MI Darun Najah. Tepat pukul 06.30 WIB. Kuturunkan standart, dan mengaca di kaca spion. Kau cantik hari ini...
Kriiiiiiing... kriiiiiiiiiing... kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...
Bel berbunyi saat Ria tepat di depan pintu kantor. Dengan terburu-buru, Ria mencari absend dan alat peraga. Tapi ladalah? Kok ga ada?
Muteeeeer-muteeeeeeer Ria mencarinya. Di atas meja, di dalam laci, di lemari,di bawah kursi... ruangan kantor jadi kapal pecah. Dengan pasrah, Ria menuju kelas dengan lunglai.
Selantai demi lantai, Sudut demi sudutsRia lalui... Dengan semangat 45 Ria berjuang demi kelas 6 yang berada di lantai tiga.
Lelah.
Badan seksi ini membuatku semakin terluka (?) hingga bercucuran darah dan keringat ini. Kemudian sampailah Ria di depan kelas
Toookk.. toookkk.. took..
Ku ketuk pintu. Tak lama...
kreeeeeekkk...
“Ustdzah loh seperti yang di tipi, yang bilang, Assalamu’alaikum Cantik.” Tercengang.
Muridku, Afriana. Yang biasa di panggil ‘banana’. Dengan pipinya yang cempluk dan senyumnya yang merekah menegurku dengan lucunya.
“Ustadzah terlambaaatt...” Sahut murid-muridku yang lain.
“iiyyyaah Ustadzah tadi sakit perut anak-anakku,” ucapku dengan keadaan malu duduk di bangku depan sambil menekuk muka ke bawah. Hehehe...


 ngabsen dan memanggil murid-muridku satu persatu untuk mengaji hanya perlu memakan waktu 20 menit saja. Sedikit tergesah-gesah memang, tapi jam 07.45 harus sampai di kampus.
Waktu telah menujukkan pukul 07.20 WIB, Ria pamitan kepada partner Ustadzah ‘Alfia Shofi’.
Ketika hendak keluar  kelas, ada berapa anak yang berkata “Ustadzah kok pulang duluan kan waktunya belum selesai?”
“Ustadzah mau sekolah seperti kamu nak....” jawabku.

Turun dari lantai 3, yang cukup memiliki beberapa anak tangga ini cukup membuat Ria terengah-engah. hah... hah... hah..
Kemudian dengan segera berlari cepat menuju kantor. Sesampai di kantor, Ria menaruh absen dan peraga. Dan dengan segera Ria pamitan kepada Ustadzah lainnya yang berada di kantor.
Pukul 07.30, Ria pun berangkat dan menghampiri motor kesayangannya dan selalu menemani sehari-harinya dalam suka maupun duka kayak orang aja!
sampai di kampus kira-kira jam 08.05, Ria bertemu dengan Azka, Nafis, Mahabbah dan Cocip.
“Gimana keadaan pean udah baikkan ta?” sapaku terhadap Mahabbah. Gadis kecil yang sudah beberapa minggu tidak masuk karena sakit tipes.
“Alhamdulillah baik-baik aja kok.” Jawabnya.
“ Eh hari ini matkul Etika Dakwah ujian lo!” serunya.
“ haaaa? Sumpahan? Aku gak tau kalau sekarang ujian Pak Narto. Mati.”
 “udah aku sms semua kok.” Tiba-tiba Syam datang mengagetkan Ria.
 “tapi kok saya gak ada sms dari kamu loh Syam...” ujar Nafis yang kebetulan juga tidak mendapatkan pesan singkat tersebut.
Ngambek.

Mata kuliah Etika Dakwah hari ini berada di gedung B lantai 1 pojok depan anak tangga setiap hari Senin.
Seketika itu Ria melihat Pak Narto memarkir mobilnya.
            “ Rek Pak Narto datang!”
Ria mengambil bangku dan ambil duduk di deretan depan nomber 2 bersebelahan dengan Nitra Galih sembari membaca buku untuk me-refresh agar dapet nilai yang lumayan.
Bapak yang pantang menyerah ini masuk kelas dan asdosnya menyiapkan segalanya. Kemudian menyuruh semuanya keluar dan akan di panggil menurut absennya. Karena ini ujian lisan. Lalu Asdos memanggil Syam.
“tolong kamu panggil 5 orang untuk UTS ya...?”
“iyaaaaaahh Ustadz...” sahut Syam
Hati udah dag dig dug. Kalau menurut absen Ria yang pertama di panggil. Dan ternyata Ria, Zein, Diana, dan Handika. Hati ini udah gak karuan rasanya...
Ternyata setelah Ria lalui saat pertanyaan demi pertannyaan dari Pak Narto, ‘Alhamdulillah jantung ini tidak berbunyi dag dig dug. Keluar dari kelas hari merasa senang karena Ria bisa menjawab pertanyaannya horeee... horeeee... horeee... hati Ria berucap dengan gembira. Ria bercakap-cakap kepada teman-teman
 “bahwasannya nanti waktunya Pak Faqih, siap-siap buat cerita lagi ya teman...?” sahutku.
Ada mas Ilham bilang “eh buatin Bogger donk..?”
“buat apa mas...?” jawabku.
Kan kemaren ada tugas dari Prof Ali, "Sampaikan kepada mereka yang belum ngirim blognya melalui fb saya, akan saya coret stelah mata kuliah saya. Karena sudah telat 2 minggu. Saya beri waktu sampai jam 13.00 WIB."
kening langsung berkerut ke atas’.
 mendengar mas Ilham bilang kalau Pak Prof itu sms, hah... oh ya
“Ria kan udah buat Blogger seh...?” sahutku. Sambil melihat laptop.
Sesudah membuat Blogger Ria cus ke warung
“udah krucuk-krucuk ini perutku berbunyi,” sama mengandeng Nafis, dan Azka.
Sambil diskusi di jalan memutuskan warung makan di mana,
“enaknya makan di mana nich...?” kata Ria.
Sahut Nafis sambil ketawa “haaa... haa... haa... gitu aja bingung, di warung Soto Ayam Suwir aja neng depannya warnet.”
Sampai di warung megambil piring sendiri-sendiri soalnya warung prasmanan, jadinya ambil nasinya sendiri-sendiri, kecuali ayamnya heee... heee... hee...
Mencari tempat duduk buat makan bersama sama Nafis dan Azka. Selesai makan bareng langsung menuju ke kos e gadis yang lugu itu, membuka gerbang kos lirih-lirih
           
“kriiiiiiik.... kriiiiiiiiikk... kriiiiik...” bunyi pintu gerbang.
Berlahan-lahan membuka pintu agar tidak menganggu teman yang di kos, bergantian sholat biar cepet sampai kampus. Semuanya sudah sholat dan siap-siap make up yang dandang dll. Meluncur ke kampus di tengah-tengah perjalanan, bertemu teman sekelas. Namanya Baiti Jannati alias Baiti Rahmawati. Menyapa Nafis, Azka dan Ria. Sambil menggendarai sepeda until, heeee... heeeee... heee...
            “wik semuanya akas-akas jam 12.00 wes berangkat nang kampus..?” sahut Baiti.
            “takutnya telat neng masuk kelasnya...?” jawabku. Sambil tertawa di jalan.
Jalan menuju kampus dengan langkah kaki agak cepat satu demi satu Ria lalui bersama Nafis dan Azka. Baiti ini langsung menuju kampus karena gadis ini memakai sepeda until dengan cepatnya.
 “seperti motor yang melaju dengan cepat...” ujarku.
Melihat jalan ini tiada henti-hentinya sampai tujuan. Melangkahkan kaki agak cepat dan terburuh-buruh wajah menunduk ke bawah semua, hampir mencapai titik di di depan gerbang yang biasa di lewati oleh setiap mahasiswa UIN SA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel)
            “awas pelan-pelan non, takut gak muat gerbangnya haaaa... haaa... haaa...?”
Ucap gadis yang sederhana itu kepada Ria (Ria kan badannya Big).
“Ria lho seksi baiti... pasti bisa masuk gerbang...?” dengan wajah PD, sahutku.
Melalui gerbang yang berwarna coklat yang udah tua usianya mungkin! Karena Ria lihat tidak ada warna yang melekat di besi gerbang kecil itu, yang selalu kunci utama masuk ke kampus lewat belakang. Satu persatu memasuki gerbang tersebut dengan pelan-pelan, terkadang ada hambatan tersangkut di tengah-tengah gerbang yang kecil buat Ria.
“kenapa kok kecil buat Ria...?” ujar gadis yang memakai tas kecil itu, dengan wajah kebingungan.
“kan tubuh Ria besar..! jadi menurut Ria yaaaaa... kecil... heeeee... heeeeeee...” jawabku dengan nada tinggi ketawanya.

Setelah melewati gerbang bersama-sama, akhirnya sampai juga di kampus. Melihat jam yag masih pukul 12.07 WIB, takut kalau nanti telat lagi di suruh sujud syukur sama Penulis Buku Best Seller 60 Menit Terapi Shalat Bahagia itu.
Berjalan menyusuri tempat parkiran motor yang akhir-akhir ini rapi, mungkin satpamnya sangat di siplin dan lumayan bisa di pandang mata. Satpamnya giat-giat menjalankan tugasnya demi kelancaran kita bersama.
Kemudian di depan Gedung A Dakwah di sebelah kanan dan kiri ini tempat kantor Dosen, dan di sudut kiri Ria masuk ada kamar mandi dan berdampingan dengan warung atau bisa di katakan kantin Dakwah, heee... heeee... heeee... dengan ekspresi ketawa sendiri. Takutnya di sampingnya setan.
Menaiki kaki ke lantai 2 dengan anak tangga kurang 25, sambil ngobrol di jalan.
            “apakah nanti habis mata kuliah Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu...?” ujarku kepada anak-anak, dengan senyum kepadanya.
            “mungkin aja neng...?” jawab Azka sambil melihat kepada Ria.
Perasaan yang paling berbahaya adalah iri, karena iri hati melahirkan kebencian dan kebencian akan membunuhmu perlahan. Ketika kata-kata iri terucap dari mulut Ria, takut gak bisa menulis dan berbicara kepada semua orang. Tetapi Ria sangat berusaha dan tetap berusaha menjadi yang baik. Ria ingin bisa berbicara lebih baik di depan orang banyak itu sja yang saya ingin kan. Di depan kelas yang setiap selasa siang pukul 12.20 Ria belajar di kelas D2.112 tempatnya di sudut kanan dari anak tangga yang telah di lewati tadi.
Ketika beliau datang Bapak Dr. N. Faqih Syarif H,. S.SOS.I., M.Si. ke dalam kelas dan menjelaskan di dalam buku beliau yaitu ‘Memahami dan Mengenal Mesin Kecerdasan Anda
Bahwasannya makhluk hidup itu mempunyai otak yang masing-masing mempunyai dominan di dalamnya. Diantaranya : otak kiri bawah, otak kiri atas, otak kanan atas, otak kanan bawah dan otak tengah.
1.      Sensing (S) untuk belahan otak kiri bawah: beberapa ciri khas orang dengan mesin kecerdasan sensing adalah ulet, cara kerjanya teratur dan biasa bekerja secara efesien, pandai dalam ketelitian kerja, mencari fakta dan mengandalkan pengalaman, orientasi kerja benda atau materi, perannya player, yielding, kunci suksesnya meningkatkan skala dan waktu.
2.      Thinking (T) untuk otak kiri atas: pandai, cara bekerjanya mandiri, terbatas efektif, pandai dalam mengajar akurasi, mencari data, mengandalkan analisis, orientasi kerjanya proses dan sistem, peran controller, ekspektasi managing, kunci suksesnya mengektifkan sistem.
3.      Intuinting (I) untuk belahan otak kanan atas: Kreatif, cara bekerjanya variatif, terbiasa solutif, pandai dalam menciptakan produk, mencari pola, mengandalkan intuisi, orientasi kerja ide dan kreativitas, peran intiator, ekspektasi creating, kunci suksesnya mengkapitalisasi aset.
4.      Feeling (F) untuk belahan otak kanan bawah: Empatik, cara bekerjannya bersama, terbiasa persuasif, pandai dalam membangun kerja sama, mencari cerita, mengandalkan hubungan, orientasi kerja orang dan hubungan, peran supporter, ekspektasi leading, kunci suksesnya menempa orang.
5.      Instinct (In) untuk bagian otak tengah: Altruis, cara bekerjanya spontan, terbiasa responsif, pandai dalam hal-hal yang lebih taktis, mencari ringkasan, mengandalkan kesigapan, orientasi kerja peran dan pelibatan, peran partner, ekspektasi controbuting, memperlancar hubungan.
Pola komunikasi Anda & Kekuatan Anda
Thingking              : bicara konsekuensi fokus pada pekerjaan logis. Sistematis, kuat pada analisis dan logika, Mensismatiskan proses, Problem solving, manajement, metode diskusi, dan simulasi.
Sensing     : bicara pengalaman fokus pada fakta pragmatis. ATM, kekuatan pada tampilan materi dan pendukungnya serta pengalaman, metode penggunaan alat dan demonstrasi
Intuinting : bicara kemungkinan fokus pada solusi imaginatif. Imajinasi liar, entrepreneurship, gagasan baru, perubahan, keativitas, metode sosiodrama dan petualangan.
Feeling      : bicara perasaan fokus pada orang bombastis. Story telling, menyentuh hati, renungan, berurai air mata, inspirasional, bombastis, leadership, metode ceramah
Lelaki yang mempunyai 3 pesatren itu menjelaskan ‘Memahami dan Mengenal Gaya Komunikasi Anda
Yang pertama adalah Visual: mereka akan lebih mudah menyerap informasi atau pengetahuan dengan penglihatannya.
Kata beliau “perlu anda catat Ciri-ciri orang Visual kalau ngomong mewakili unsur-unsur penglihatan.
·         Tampaknya
·         Penglihatannya
·         Menurut pandangan saya
·         Ide anda kabur
ide anda kabur apa hayoo..? kata-kata yang mempunyai unsur melihat. Penampilan orang Visual itu rapi enak di pandang mata, ada kan orang itu penampilanya gak rapi... onok opo gak..? teman Ria yang memakai akik tiap hari hampir gonta-ganti itu menyahuti perkata’annya beliau
“hisyam...”
Jadi orang visual kalau anda masuk rumah orangnya peralatan pernik-pernik yang indah dan terus kemudian ada pigoranya waahh.. anda bisa curiga ini berarti visual itu bisa jadi, tapi belum tentu. Orang visual itu kalau masuk kantornya itu rapi... orang visual itu kalau ngomong agak cepet, misalnya ada telepon tidak bisa duduk dan bilang oh iya iya halo halooo... dan ketika menelpon biasanya pengang bulpoin dan mengorek-ngorek kertas padahal cuman ngoret-ngoret tok, orang visual itu berdasarkan data, jadi jangan di ajak bicara. Tapi juga bukakan data-data atau slide. Apalagi orang yang memotivasi harus mengetahui 3 gaya komunikasi ini yaitu : Visual, Auditori, dan Kinestetik.
Yang kedua Auditori, kata-katanya mewakili unsur mendengar hubunngannya dengan telinga, saya denger dari koran kemarin, betul atau tidak orang itu. Saya denger dari korankemarin bbm itu akan naik lagi...? bener, karena orang Auditori. Padahal koran baca gak, padahal ceritanya dari koran. Coba anda rasakan minggu-minggu ini ohhh.. orang ini Visual, ohh... orang ini Auditori. Apa yang kamu suka dari ‘gunung’ waduh... kalau ke gunung saya suka suara-suara burung, suara-suara angin. Wah itu Auditori sudah, dia tidak ngomongkan pemandangan lagi, tapi kalau dia ngomong apa yang paling dia suka dari gunung...? oh suasananya Pak, sejuk... wah itu penuh perasaan dan stetis. Bapak yang memakai baju kemeja garis-garis merah mengucapkan lagi dengan penuh perasaan, dan itu tidak bisa bohong itu, anda ngomong berapa menit saja tespennya berbunyi
“cet cet visual... visual...”
Itu tespen, dan di gabungkan, dan Ilmunya di sebut dengan seles majic. Coba apa ciri-ciri orang Auditori dia mewakili dari unsur-unsur melihat apa contohnya..?.
·         Tampaknya
·          Kelihatannya
·         Menurut pandangan saya
·         Ide saya kabur
Wes pokok’e ada unsur-unsur melihat, biasanya orang auditori kalau ngomong seperti orang membaca puisi, naik turun. Ciri-ciri orang auditori yang paling di kenal adalah ngomel-ngomel dewe, semua mahasiswa di kelas itu rame banget.. mungkin salah satu atau salah dua mempunyai sifat gitu, Ria melihat Azka tertawa.
 “waduh mungkin azka salah satunya hee..?”dalam hati bicara, dengan kening kerut ke atas.
Biasanya orang auditori suka ngomong-ngomong sendiri dan besenandu. Apalagi di kamar mandi nyanyi-nyanyi di kos atau pun di rumah. Biasanya di kamar atau kantornya ada musik atau suara-suara burung, dan harus ambil dari fererensi.
Yang ketiga Kinestetik, Bapak penulis Kiat Menjadi Da’i Sukses itu menyampaikan materi yang terakhir. Mewakili gerak dan perasaan, apa yang kamu suka ke pantai...? wah kalau saya suka ke pantai berenang, perasaan, suasana. Orang Kinestetik itu kalau ngomong cenderung lambat, enak misal
“jadiiiiii... kitaaaaa... harussss....” dengan ucapan yang lambat.
Orang Kinestetik itu kalau ngomong agak lambat dan kalau bergerak itu cepet. “copet,” ujar beliau dengan suara anak-anak tertawa. Jadi Mentri kalau ngomong pelan-pelan, tetapi kalau mengisi seminar beliau ngomongnya cepat. Jadi kalau ngomong cepat wartawan yang nulisnya agak cepat, apabila Presiden kita Jokowi ini kan kalau ngomong lambat. Jadi wartwannya juga nulisnya lambat dan enak.
Jadi apaila anda menjadi Motivator dan seorang Da’i harus mengetahui 3 Gaya Komunikasi.


           





Jumat, 10 April 2015

MEMBERANTAS 5 KELUHAN HATI


Pada siang hari dengan di iringgi hujan rintik-rintik terdengar di atas atap rumah orang saat berjalan menuju ke warnet.  Bersama kaki yang melangkah berbunyi “cret,cret.” Dengan langkah kaki yang sangat cepat ketika itu saya bersama Azka Azkiyatul  bergegas menuju warnet. Setiba di tempat itu, saya dan seorang memakai baju jean itu kebingungan mencari tempat duduk sambil mata melihat kanan dan kiri, akhirnya dapat juga yang tepat buat kita mencari tugas.
Melihat komputer dengan santai, sampai-sampai lupa bahwa nanti ada Mata Kuliah lagi, gadis itu bilang “Ria ntar kan ada kuliah lagi.” Saya menjawab “oh iya ya.” Sambil bergegas matikan komputer jarum kecil di pergelangan tangan ini menujukkan bahwa di angka 11 dan jarum besar di jarum 10. Ketika itu cuacana di luar masih hujan rintik-rintik, “gimana ria enaknya lanjut atau nunggu hujannya redah.” Kata dia si sepatu hijau, saya menjawab “lanjut aja biar tidak telat masuk mata kuliahnya Pak Prof Ali Aziz. “Kalau telat lagi di suruh sujud luh kata ku,” dengan terburuh-buruh ke tempat kos gadis berkerudung ungu itu agar nanti tidak telat masuk kuliah. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada perkataan yang membuat saya tersenyum, “pean kalau jalan seperti pinguin,” hahahaha tertawa bersama si Azka itu.
Sesampai di tempat kos, cepat-cepat mengambil air wudhu dan sholat berjama’ah. Setelah sholat langsung makan dengan tersedak-sedak menelan makanan dengan waktu yang dikit, mungkin 10 menit-an menelan makanan tadi dan minum. Dengan kebingungan melihat jam udah mau ke pukul 12 pm. Bergegas-gegas kaki ini melangkah menuju kampus di iringi hujan yang menghuyur badan kita berdua dengan suara kaki “cret.. cret.. .” di tengah perjalanan ada pedagang pentol memakai payung besar berwarna-warni di rombongnya sambil jalan saya bertanya “pak payungnya boleh di pinjem ta? .” sambil di tertawakan sama dia memakai bawahan jeans dengan melihat aku yang agak aneh. Berjalan terus menuju gerbang kecil yang berwarna coklat itu yang hanya bisa di masuki orang 1, di jalan bertemu pedagang jualan buah, dengan jalan di depan rombongnya pelan-pelan dan berkata ke pedagang “pak boleh pinjam payungnya..” sambil senyum bapak bertopi itu, dan menjawab “iiya boleh bawah aja ke kampus neng.” Si neng Azka berkata “ hahaha kamu ini mak bisa aja ini kedua kalinya luh..” sambil senyum ketika mbk Azka berkata kepada aku.
Di depan gerbang yang cukup di lewati anak satu, tepatnya di belakang kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UIN SA). Melangkahkan kaki ini pelan-pelan karena banyak genangan air hujan di perjalanan, sampai tempat gedung A Dakwah langsung dech dengan berkecepatan tinggi langkah kaki ini mulai lelah saat menaiki anak tangga yang kira-kira anak tangganya 20-an sehingga tubuh ini berkeringgat hingga baju ini banyak keringgatnya sampai di wajah juga meneteskan keringat di baju ku yang berwarna biru matang. Sampai di kelas D1.211 pada pukul 11.54 pm, saya melihat kelas ini kok masih sepi. Oh iya lupa saya bahwa PESAN DARI PROF ALI AZIZ “Mohon beritahu teman2 bhwa yang blognya blum dikoment 20 orang dan blm mengupload catatan suasana kuliah kemarin diblognya DILARANG masuk kelas. Tks ada kemungkinan kuliah diajukan jam 12 krn pak faqih ada acara lain. Apa bisa teman2 shalat jamaah dhuhur dg saya jam 11.45 di kelas agar bisa start kuliah ON TIME? Jika ya teman2 harus sudah wudhu dan bawa koran untuk sajadah.”
Mata menatap kelas yang sepi dan sunyi itu lagi menjalankan perintah Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu, hati kecil saya bilang “ Ya Allah saya belum bisa seperti yang di inginkan Bapak yang memakai baju putih itu,” sambil duduk di depan kelas D1.211, tiba-tiba ada teman yang datang yang bernama Ulfi, gadis ini sehari-harinya memakai kerudung syar’i. Di ajak ngobrol sambil memakan kuaci, saya bertanya “neng dapat dari mana kuaci ini?.” Sambil makan kuaci. di dalam hati berkata gak penting juga aku tanya begitu kepadanya, suasana yang sepi dan sunyi itu hanya terdengar suara saya dan mbk yang memakai baju buru itu. Ketika ada pria 2 mau masuk kelas dengan ekspresi yang tegang melihat pria berpakaian rapi yang 1 ini kok pernah lihat masak kakak kelas ku seh? “sambil memikir dan melihatinya.” Bapak ini mungkin Pak Faqih yang mau ngajar di kelas kita hati ini berbicara sendiri, mas yang memakai baju hem biru itu bertanya kepada saya. “ini waktunya Pak Prof Ali yaa??.” Sahut “iiya mas.” Langsung saja Bapak yang memakai baju yang rapi ini masuk ke dalam kelas D1.211.
Ketika masuk dalam kelas dengan pintu warna coklat dan tembok berwarna crem itu. Pak Prof dan anak-anak lainnya selesai sholat dhuhur berjama’ah, jam terus berputar, kemarin kesepakatan masuk jm 12.00 pm. Akhirnya terwujud juga, hati kecil berkata “memang tak semudah, orang di siplin waktu itu ya?.” Sambil mencari duduk, semua Mahasiswa di kelas itu mencari tempat duduk di belakang semuanya termasuk aku juga hehehehe.... Penulis Buku Best Seller 60 Menit Terapi Shalat Bahagia itu mengatakan “ngapain kalian duduk di belakang itu!! Ayo duduk di depan semuanya.” Sambil mengambil bangku menariknya ke depan agar cepat-cepat dapat di depan, eh lah kok dapat nomer 2 dari depan.
Sebelum Bapak baju garis hitam dan merah itu duduk, asistennya bingung mau taruh payungnya di mana? Dan beliau menyuruh taruh ke belakang pintu yang berwarna coklat. Terus mas berpakaian biru itu keluar dari kelas, langsung saja membuka laptop dan akan menerangkan karena beliau ini jadwalnya sangat padat Mantan Dekan FDK UINSA itu berbicara “Pak Faqih ini jam terbangnya sangat padat, sampai kalah saya sama beliau ini.” Pak Faqih menjelaskan dengan menggunakan LCD Proyektor yang ada di kelas, sayangnya Proyektornya tidak bisa di gunakan. Pada akhirnya salah satu Mahasiswa mengambil proyektor di kantor agar cepat berlangsung Mata Kuliah hari ini dengan Ridho Allah SWT.
Lelaki yang mempunyai 3 pesatren itu membuka laptopnya yang keluar di power point adalah kata-kata HIT sambil mengambil buku dan bulpoin untuk mecatat apa yang beliau katakan. Di antara kat HIT itu Hancurkan Penghalang, Impian-mu Tuliskanlah, Tingkatkan Valensi-mu. Nama panjang M. Nurudin Faqih Syarif menjelaskan “Penghalang yang tidak tampak itu apa?.” Mahasiswa yang duduknya di samping ku menjawab “males,” yaa di antaranya itu mas, tapi masih banyak.
1.      Pikiran Negatif
Memang kita tidak menyadari bahwa pikiran negatif ini banyak kita ucapkan setiap harinya dan Depresiasi diri, ciri-ciri orang yang depriasi diri itu adalah merendahkan diri, anak UNAS sekarang gamapang menyerah duluan, seharusnya mengerjakan soal-soal yang mudah dulu baru kemudian yang sulit-sulit. Terkadang anak remaja sekarang jarang memakai pikiran seperti itu. Akhir-akhir ini banyak kegalauan yang di alami oleh manusia, oleh karena itu berhati-hatilah dengan sifat syetan 3D yaitu Dengki, Dendam dan Dongkol. Kalau anda ada di antara sifat ini berarti sifatnya “syetan,” kata mahasiswa itu, beliau berucap “bukan saya luh,” hehehehe tertawalah semuanya. Saat itu suasananya tidak redup sehingga mulai termotivasi. Manusia tidak mau bedo’a masak kalah sama syetan!! Setan aja berdo’a kepada Allah. Apa doa setan kepada Allah hayoo.. doanya “berikanlah umur yang panjang kepada ku Ya Allah,” setan berdo’a aja di kabulkan, masak manusia kalah sama setan. Mendorong-mendorong keburukkan, dan menundah-nundah kebaikkan itu perbuatan setan.
2.      Usia
Jangan menganggap usia segini tidak bisa menggapai cita-cita yang belum kita capai. Janganlah menyerah, di usianya yang muda ini anak berumur 6 tahun udah bisa menulis buku Insya Allah anaknya Ustad AAGM. Apakah anak ini belum pantas untuk menulis buku. Lalu Bapak yang hitam manis ini menceritakan awalnya KFC Harland David "Colonel" Sanders


Pada tahun 1952, Kolonel Sanders menjual semua propertinya untuk berkeliling dari kota ke kota dan dari
 restoran ke restoran untuk menawarkan resepnya. Sebagai mantan koki, dia percaya bahwa resepnya akan diminati banyak restoran dan mau diajak bekerjasama untuk membuka usaha waralaba di bawah lisensinya. Sayangnya, lebih dari 1.000 restoran menolak resep yang ditawarkannya, tetapi dia tidak menyerah begitu saja dan terus berkeliling sampai tiba di restoran ke 1.008 yang mau membeli resepnya dan selanjutnya mengembangkan usaha waralaba yang diberi nama KFC. Sanders meninggal dunia pada tanggal 16 Desember 1980 akibat komplikasi Pneumonia dan Leukimia. Apakah ini pakek dalih. 
(lahir 9 September 1890 – meninggal 16 Desember 1980 pada umur 90 tahun) merupakan seorang pebisnis berkebangsaan Amerika Serikat yang ikut mendirikan Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia mulai aktif dalam mewaralabakan bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Saat ini, usahanya telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam sistem masakan siap saji di dunia. Tetapi sebelum menuai kesuksesannya, selama 9 tahun Kolonel Sanders berusaha menyempurnakan metode memasak ayam dengan menggunakan sebelas bumbu dan rempah-rempah seperti yang dikenal saat ini. Dengan resep masakan tersebut, daging ayam menjadi sangat empuk, renyah, dan gurih. Dia juga menggunakan pressure cooker yang lebih cepat memasak ayam daripada penggorengan biasa dan meningkatkan cita rasanya, sehingga saat ini dikenal istilah restoran cepat saji atau fast food karena kecepatan memasak ayam dan kelezatan rasanya.
3.      Kesehatan
Kesehatan juga di buat alasan untuk bergerak lebih jauh apakah anda tau bahwa seorang pepeng yang terbaring tempat tidurnya masih bisa berkarya Nama Ferrasta Soebardi mungkin terdengar asing tapi jika menyebut nama Pepeng tentu sebagian masyarakat Indonesia cukup mengenal sosok seniman yang satu ini. Pria yang lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 23 September 1954 ini sudah lama berkibar di panggung hiburan Tanah Air khususnya dunia lawak. Pepeng mengawali karirnya saat masih berstatus sebagai mahasiswa pada tahun 1978. Saat itu, ia berhasil menjuarai Lomba Lawak Mahasiswa. Sementara posisi kedua dan ketiga ditempati Krisna Purwana dan Nana Krip.

Hampir setiap hari ada saja orang yang bertandang ke kediamannya di bilangan Kompleks Bumi Pusaka Cinere, Depok. Namun bukan untuk menaruh rasa iba, tapi justru menimba ilmu hidup dari Pepeng. Guyonan khas Madura selalu menjadi selingan segar ketika berbincang dengan para tamu yang mengunjunginya. Tetapi, setiap berbicara, Pepeng sejatinya dihujani rasa sakit. Karena guyonan segar dan sapaan hangatnya, lawan bicara sering lupa bahwa Pepeng sedang sakit. Pepeng justru mampu menebar semangat hidup dan tetap berhubungan dengan dunia luar lewat laptopnya.
Meski menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya itu, Pepeng tidak larut dalam kesedihan. Ia masih bersemangat menatap masa depan sambil terus mengupayakan kesembuhan. Ketegaran untuk melawan penyakitnya itu juga berkat dorongan dari sang istri, Utami Mariam Siti Aisyah. Wanita yang sehari-hari akrab disapa Tami itu setia mencurahkan waktu dan tenaganya untuk merawat Pepeng. Tidak hanya itu, sejak sang suami bergulat dengan penyakitnya, Tami juga menggantikan peran Pepeng sebagai tulang punggung keluarga. Tami mencari nafkah sebagai penjahit busana muslimah. Melihat pengorbanan Tami, tekad Pepeng untuk sembuh semakin bertambah kuat. Meski raganya tak berdaya, ia tetap gigih menjalani kehidupan. Gelar master yang berhasil diraihnya di tahun 2006, belum cukup membuatnya puas. Ia berencana melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor (S3). Semangat Pepeng ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi yang dialaminya saat ini tidak menjadi kendala untuk mengukir prestasi akademik.
Pada awal Januari 2011, setelah lama tak mengisi acara di televisi, Pepeng kembali tampil di layar kaca tvOne dalam acara talkshow Ketemu Pepeng yang tayang setiap Sabtu pukul 22:00 - 23:00 WIB. Talkshow inspiratif yang dikemas sebagai sebuah acara silaturahmi, pertemuan antara sahabat, idola maupun seorang pejabat itu menghadirkan sosok Pepeng dengan suara yang khas dan gaya humorisnya.
Perjuangan, semangat hidup dan suka duka yang dialaminya menjadi benang merah obrolan dengan setiap tamu yang hadir. Para tamu yang hadir adalah mereka yang mempunyai cerita yang inspiratif dan figur Pepeng akan menjadi teman bicara yang menarik sambil melontarkan lelucon yang ringan namun tetap berisi.
Ketemu Pepeng dilengkapi dengan hiburan musik yang dikemas sedemikian rupa sehingga grup musik yang tampil dan judul lagu yang dinyanyikan sesuai dengan tema acara tersebut. Apakah Talkshow Ketemu Pepeng akan seperti kuis Jari-jari? Di akun facebooknya Pepeng menjawab dengan gaya khasnya, "Ya nggak lah, hahahahahha. Saya mana bisa loncat-loncat kayak Jari jari?".
4.      IQ
Biasanya kita menyalahkan IQ kita,“halah aku iki ancen gak isok nulis. Gampang menyerah. Kata Pak Faqih “Latar Belakang Pendidikan,” seperti Andrie Wongso - Motivator Indonesia
Memiliki motivasi
dan tekad kuat untuk mencapai target itulah gambaran diri dari Andrie Wongso, Meskipun bergelar SDTT [Sekolah Dasar Tidak Tamat] namun berkat tekadnya yang kuat berhasil mengantarkan Andrie Wongso menjadi Motivator Nomor Satu di Indonesia. Andrie Wongso yang dilahirkan 6 Desember 1954 di kota Malang, Jawa Timur ini hidup dalam keterbatasan finansial, ia merupakan Anak ke-2 dari 3 bersaudara. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar. Di usia 22 tahun, Andrie memutuskan berangkat ke Jakarta demi mengubah nasib dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan jujur. Maka dimulailah kerja sebagai salesman produk sabun sampai pelayan toko.
Untuk mengisi waktu luang, Andrie muda yang semakin beranjak dewasa mendirikan sebuah perguruan kungfu bernama Hap Kun Do. Hingga akhirnya penghasilan dari melatih kungfu yang diperolehnya lebih besar daripada gaji sebagai pelayan toko. Di sinilah kembali muncul impian untuk menjadi bintang film. Andrie lalu keluar dari pekerjaannya dan berlatih kungfu secara intensif selama dua minggu, kemudian mengirimkan foto dan surat lamaran ke Hongkong. Meminjam istilah orang awam, dewi fortuna ternyata masih tidak berpihak kepadanya. Tiga bulan hidup dengan tanpa penghasilan bukan hal yang mudah untuk dilalui, sebab itu ia berusaha untuk memotivasi diri sendiri. Tiga bulan kemudian, buah karma baik menghampirinya. Andrie melamar sebagai bintang film dan diterima oleh perusahaan Eterna Film Hongkong, dengan kontrak kerja selama 3 tahun. Tahun 1980, untuk pertama kalinya Andrie ke luar negeri. Setelah melewati 3 tahun merasakan suka dukanya bermain film di Taiwan, Andrie tahu, dunia film bukanlah dunianya lalu dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Sepulangnya ke Indonesia, dia pun memutuskan tidak akan memperpanjang kontraknya. Banyak orang menyatakan Andrie gagal karena tidak ada satu film pun yang diwakilinya sebagai bintang utama. Tetapi Andrie merasa dirinya sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan. Menandai setiap peristiwa yang telah dilalui, Andrie gemar menuangkannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide membuat kartu ucapan kata-kata mutiara, dengan tujuan selain untuk memotivasi diri sendiri, juga untuk membantu memotivasi orang lain melalui kartu ucapan. Dibantu oleh sang kekasih Haryanti Lenny (sekarang istri)maka di Tahun 1985 lahirlah Harvest. Pada awalnya bisnis ini tidak berjalan dengan mudah, berbagai macam penolakan dan hambatan selalu menghampirinya. Dimulai dari penjualan kartu secara keliling dari sebuah kamar kost, usaha tersebut berjalan sukses. Hingga saat ini Harvest telah memiliki beberapa perusahaan pendamping. Boleh dibilang Andrie Wongso sejak tahun 80-an telah menjadi seorang motivator karena produk Harvest pada awalnya berupa kartu berisikan ucapan motivasi yang kemudian berkembang menjadi produk-produk inovatif lainnya. Tahun 1992 adalah momentum bagi Andrie Wongso untuk terjun secara total dalam bidang motivasi dari hasil 'pencerahan’ yang didapatkannya setelah mempelajari Buddhisme secara lebih mendalam.
Dalam bidang motivation training, Andrie menggagas sebuah pemikiran filosofis Action and Wisdom Motivation Training yang bersumber dari ajaran Buddha, yakni hukum tentang pikiran, hukum tentang perubahan dan hukum tentang sebab akibat. Filosofi terkenal dari Andrie Wongso adalah “Success is My Right” yang lahir enam tahun yang lalu. Pelatihan yang diberikan Andrie Wongso tidak terbatas hanya pada kalangan Buddhis, namun sudah merambah ke seluruh lapisan, baik perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, atlet dan lain-lain. Kemudian diversifikasi perusahaan pun dilakukan, merambah ke bidang holografi, perusahaan mainan, pengelola beberapa foodcourt dan untuk menaungi bidang pendidikan dan kepelatihan, Andrie mendirikan AW motivation training dan AW Publising, Multimedia serta membuka beberapa outlet AW Success Shop yaitu toko pertama di Indonesia yang khusus menjual produk-produk motivasi.
Sejak tahun tahun 1989, dia menjadi pembicara/motivator intern PT. Harvindo Perkasa (Harvest Fans Club di berbagai kota), dan dari sinilah, kemudian ia sering melakukan training motivasi, tidak hanya untuk Harvindo tapi juga untuk berbagai perusahaan dan instansi. Kini, ia dijuluki sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Lalu, gelarnya ditambah TBS, yang artinya Tapi Bisa Sukses. Itulah Andrie Wongso, SDTT, TBS.
5.      Nasib

Terkadang kita percaya dengan primbon, zodiak dll. Bahwasannya Nasib bisa di rubah, ketika apa yang kamu inginkan atau impian-mu tulislah dan simpan di tempat terlihat. Misalnya di depan kamar tidur atau di atap atas, agar bisa di lihat waktu tidur.

Rabu, 08 April 2015

BIOGRAFI NY. CHASANAH MANSUR

NY. CHASANAH MANSUR
Peletak Dasar Administrasi dan Manejemen Muslimat
Nyonya Chasanah Mansur mulai aktif di Muslimat NU tahun 1950, di Jakarta. Ia sendiri kelahiran Indramayu, 87 tahun lalu. Waktu itu bangsa ini sedang mempertahankan kemerdekaan. Suaminya, KH. Mansur, adalah tokoh NU dan juga tokoh Masyumi. Belanda yang hendak kembali menjajah, menangkapi dan mengejar-ngejar tokoh-tokoh Masyumi, termasuk KH. Mansur . Namun keluarga ini berhasil meninggalkan kampung halaman di Indramayu, menuju Jakarta.
            Di Jakarta, Ny. Hasanah Mansur mulai terlibat aktif mengerakkan Muslimat NU. Tahun 1958 ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin Muslimat Wilayah DKI Jakarta sebagai ketua. Ia tercatat sebagai ketua periode keempat, setelah Ny. Wahid Hasyim, Ny. Zuhriana Madjid dan Ny. Murtadzidah Ahmad di tingkat pimpinan pusat, ia mulai terjun tahun 1962, mengurus bagian keuangan. Kariernya terus meningkat. Pada tahun 1967, Kongres IX Muslimat NU di Surabaya, memlih Ny. Chasanah Mansur sebagai sekertaris umum. Ketua umumnya, waktu itu, Ny. Mahmudah Mawardi. Jabatan ini diembannya sampai kongres berikutnya di Semarang tahun 1979. Ia mengakhiri pengabdiannya di Muslimat NU pada tahun 1989, saat berlangsungnya Kongres XII di Kaliurang (1989), karena usianya telah senja.
            Sebagai sekertaris, kesibukannya meningkat. Bukan hanya menangani masalah policy, tapi juga kegiatan-kegiatan teknis. Membuat notulasi, salah satunya. Apalagi sewaktu berlangsung kongres, kesibukan ini tambah banyak. “Ketika orang-orang tidur, saya masih bekerja merumuskan hasil-hasilnya,” kenangnya. Tapi pekerjaan itu bisa lancar kalau dilakukan sambil minum kopi. “ Kalau sudah minum kopi, rasanya tangan ini seperti menulis sendiri.” Ia kembali mengenang pengalamannya.
            Dalam dunia politik, Ny.cchasanah Mansur pernah duduk sebagai anggota MPRS, tepat pada saat berlangsungnya suksesi kepemimpinan nasional, dari Presiden Soekarno kepada Presiden Seoharto. Ia juga pernah mendapat kesempatan mengikuti program penelitian tentang Keluarga Berencana di India selama sebulan, tahun 1968. Program yang disponsori LKBN (sekarang BKKBN) itu diikuti oleh utusan berbagai organisasi wanita.
Ny. Chasanah Mansur dikenal sebagai peletak dasar-dasar administrasi umum dan keuangan dalam manajemen Muslimat. Hal itu karena latar belakang pendidikannya yang sangat cukup baik, untuk ukuran waktu itu. Selain belajar agama, adik KH. Imron Rosyadi, SH ini mendapat kesempatan belajar di Kartini School di kota Cirebon. Masa belajar sekolah setingkat SD ini tujuh tahun, dengan pengantar bahasa Belanda. Ia fasih melafazkan bahasa Belanda itu. Di jajaran Muslimat waktu itu, hanya ada dua perempuan yang fasih berbahasa Belanda. Selain dia, adalah Ny. Murtadziyah, katua priode pertama Muslimat NU DKI Jakarta.
Kartini school menetapkan  kriteria cukup ketat bagi calon muridnya. Kehidupan orang-tua murid dijadikan pertimbangan. Bila di lingkungan keluarga calon murid, bahasa komunikasinya tidak memakai bahasa Belanda, jangan harap bisa lolos. Ny. Chasanah Mansur hidup di lingkungan keluarga landraad. Ayahnya, KH.Abdullah Syafii, adalah seorang kepala penghulu di Cirebon.
             Dalam usia senja saat ini (87 tahun), Ny.Chasanah Mansur masih tampak segar. Dulunya beliau di kenal suka olahraga. Agak unik, memang, sebab olahraga yang di gemari Hasanah Mansur sewaktu belia adalah tenis. Ia bermain tenis dengan mengenakan kain, tidak pakaian olahraga seperti lazimnya orang sekarang . Suaranya masih lantang. Ingatannya masih tajam . Ia dapat mengingat  berbagai  periswa  penting yang dialaminya sewaktu masih aktif di Muslimat. Ia sendiri tidak mencatat  hari kelahirannya. ‘’Waktu itu memang tidak dicatat,’’ katanya mengingat-ingat. Teyapi tidak berarti hari kelahirannya tidak diingatnya sama sekali. Setidaknya, ada peristiwa yang menyertainya. ‘’Saya lahir pada saat hari lebaran besar,’’katanya mantap. Yang dimaksud lebaran besar adalah hari raya Idul Adha.
            Berbicara dengan Ny. Chasanah Mansur, kita dapat merasakan nuansa kehangatan dan keakraban. Ia masih seperti dulu. Canda dan tawa muncul di sela-sela pembicaraan seriusnya. Saat ini ia mengibarkan dirinya sebagai koper yang dapat dibawa-bawa. Delapan puteranya silih berganti membawanya, dari kediamannya di kawasan Jakarta Pusat, ke rumah masing-masing. Mereka memang tidak tinggal serumah, karena sudah berkeluarga. Ny.Chasanah Mansur tinggal bersama dua orang pembantu yang setia melayaninya.
                Hari-harinya ia lalui dengan berbagai amalan, di samping mengajar ibu-ibu di lingkungan sekitarnya. Membaca Al-Qur’an, kerinduannya yang rutin. Kerinduannya terhadap al-Khalik yang telah memberikan kehidupan yang hasanah di dunia, menyosngong hasnah berikutnya di akhirat kelak.