Minggu, 19 April 2015

MENGETAHUI MESIN KECERDASAN

Haihaiiii... Ria balik lagii... Ria tau pasti bloggers kangen sama Ria yakaaaaan? Ihiy... Ria juga kangen kok sama kaliaaaaaan *apaseh*
Okeh... Ria dapet tugas lagi niii... ceritain tentang SUKSES! Tapi sebelumnya Ria curhat dulu jadi pagi-pagi sekitar jam 6 pagi, Ria siap-siap ngajar (gini-gini Ria guru yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, baik kepada orangtua, dan berguna bagi bangsa dan negara... haha!) kebetulan Ria sekarang ini tinggal sama nenek tercinta. Pas mau salim, nenek teriak-teriak...
nah loh! Kenapa coba nenekku?
            “Riaaaaa! Sini-sini! Ndaaaaaaaaang!” teriak nenekku.
            “opo o mbaaah? Opo oooooo?” sahutku sembari berlari menghampiri beliau.
            “liat-liat sini! Ada SM*SH ndek tipi! Kenapa hatiku cenat-cenut kepada kamu~~~” kata nenekku sambil menirukan gerakan-gerakan SM*SH.
            “aduh mbah.................”
Okeh lanjut. Akhirnya Ria terselamatkan oleh tarian eksotis nenekku. Oke. Berangkat. Cus.
Di tengah perjalanan menuju Sekolahan, Ria melihat Oom dan Tante lagi mesra-mesra’an di depan rumah
 Duh... nggarai iri...
“Ria!” tiba-tiba Tante menyapaku
“eh iya Te... kenapa? Ada apa? Sama siapa? Bagaimana? Apa kabar? Sekian, terimakasih”
“apa seh Ya? Ini loo... Tante punya sangu buat kamu... Lumayan buat bayar baju” kata Tante sambil menyelipkan enam lembar duit seratus ribuan.
“aduh tante... ga usah repot-repot” kataku.
“halah kayak apa ae seh nduk... wes, kamu ngajar kan? Ndang berangkat!” ujar Tante.
“iya Te, Assalamu’alaikum”

Finally. Akhirnya Ria sampai di Sekolah MI Darun Najah. Tepat pukul 06.30 WIB. Kuturunkan standart, dan mengaca di kaca spion. Kau cantik hari ini...
Kriiiiiiing... kriiiiiiiiiing... kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...
Bel berbunyi saat Ria tepat di depan pintu kantor. Dengan terburu-buru, Ria mencari absend dan alat peraga. Tapi ladalah? Kok ga ada?
Muteeeeer-muteeeeeeer Ria mencarinya. Di atas meja, di dalam laci, di lemari,di bawah kursi... ruangan kantor jadi kapal pecah. Dengan pasrah, Ria menuju kelas dengan lunglai.
Selantai demi lantai, Sudut demi sudutsRia lalui... Dengan semangat 45 Ria berjuang demi kelas 6 yang berada di lantai tiga.
Lelah.
Badan seksi ini membuatku semakin terluka (?) hingga bercucuran darah dan keringat ini. Kemudian sampailah Ria di depan kelas
Toookk.. toookkk.. took..
Ku ketuk pintu. Tak lama...
kreeeeeekkk...
“Ustdzah loh seperti yang di tipi, yang bilang, Assalamu’alaikum Cantik.” Tercengang.
Muridku, Afriana. Yang biasa di panggil ‘banana’. Dengan pipinya yang cempluk dan senyumnya yang merekah menegurku dengan lucunya.
“Ustadzah terlambaaatt...” Sahut murid-muridku yang lain.
“iiyyyaah Ustadzah tadi sakit perut anak-anakku,” ucapku dengan keadaan malu duduk di bangku depan sambil menekuk muka ke bawah. Hehehe...


 ngabsen dan memanggil murid-muridku satu persatu untuk mengaji hanya perlu memakan waktu 20 menit saja. Sedikit tergesah-gesah memang, tapi jam 07.45 harus sampai di kampus.
Waktu telah menujukkan pukul 07.20 WIB, Ria pamitan kepada partner Ustadzah ‘Alfia Shofi’.
Ketika hendak keluar  kelas, ada berapa anak yang berkata “Ustadzah kok pulang duluan kan waktunya belum selesai?”
“Ustadzah mau sekolah seperti kamu nak....” jawabku.

Turun dari lantai 3, yang cukup memiliki beberapa anak tangga ini cukup membuat Ria terengah-engah. hah... hah... hah..
Kemudian dengan segera berlari cepat menuju kantor. Sesampai di kantor, Ria menaruh absen dan peraga. Dan dengan segera Ria pamitan kepada Ustadzah lainnya yang berada di kantor.
Pukul 07.30, Ria pun berangkat dan menghampiri motor kesayangannya dan selalu menemani sehari-harinya dalam suka maupun duka kayak orang aja!
sampai di kampus kira-kira jam 08.05, Ria bertemu dengan Azka, Nafis, Mahabbah dan Cocip.
“Gimana keadaan pean udah baikkan ta?” sapaku terhadap Mahabbah. Gadis kecil yang sudah beberapa minggu tidak masuk karena sakit tipes.
“Alhamdulillah baik-baik aja kok.” Jawabnya.
“ Eh hari ini matkul Etika Dakwah ujian lo!” serunya.
“ haaaa? Sumpahan? Aku gak tau kalau sekarang ujian Pak Narto. Mati.”
 “udah aku sms semua kok.” Tiba-tiba Syam datang mengagetkan Ria.
 “tapi kok saya gak ada sms dari kamu loh Syam...” ujar Nafis yang kebetulan juga tidak mendapatkan pesan singkat tersebut.
Ngambek.

Mata kuliah Etika Dakwah hari ini berada di gedung B lantai 1 pojok depan anak tangga setiap hari Senin.
Seketika itu Ria melihat Pak Narto memarkir mobilnya.
            “ Rek Pak Narto datang!”
Ria mengambil bangku dan ambil duduk di deretan depan nomber 2 bersebelahan dengan Nitra Galih sembari membaca buku untuk me-refresh agar dapet nilai yang lumayan.
Bapak yang pantang menyerah ini masuk kelas dan asdosnya menyiapkan segalanya. Kemudian menyuruh semuanya keluar dan akan di panggil menurut absennya. Karena ini ujian lisan. Lalu Asdos memanggil Syam.
“tolong kamu panggil 5 orang untuk UTS ya...?”
“iyaaaaaahh Ustadz...” sahut Syam
Hati udah dag dig dug. Kalau menurut absen Ria yang pertama di panggil. Dan ternyata Ria, Zein, Diana, dan Handika. Hati ini udah gak karuan rasanya...
Ternyata setelah Ria lalui saat pertanyaan demi pertannyaan dari Pak Narto, ‘Alhamdulillah jantung ini tidak berbunyi dag dig dug. Keluar dari kelas hari merasa senang karena Ria bisa menjawab pertanyaannya horeee... horeeee... horeee... hati Ria berucap dengan gembira. Ria bercakap-cakap kepada teman-teman
 “bahwasannya nanti waktunya Pak Faqih, siap-siap buat cerita lagi ya teman...?” sahutku.
Ada mas Ilham bilang “eh buatin Bogger donk..?”
“buat apa mas...?” jawabku.
Kan kemaren ada tugas dari Prof Ali, "Sampaikan kepada mereka yang belum ngirim blognya melalui fb saya, akan saya coret stelah mata kuliah saya. Karena sudah telat 2 minggu. Saya beri waktu sampai jam 13.00 WIB."
kening langsung berkerut ke atas’.
 mendengar mas Ilham bilang kalau Pak Prof itu sms, hah... oh ya
“Ria kan udah buat Blogger seh...?” sahutku. Sambil melihat laptop.
Sesudah membuat Blogger Ria cus ke warung
“udah krucuk-krucuk ini perutku berbunyi,” sama mengandeng Nafis, dan Azka.
Sambil diskusi di jalan memutuskan warung makan di mana,
“enaknya makan di mana nich...?” kata Ria.
Sahut Nafis sambil ketawa “haaa... haa... haa... gitu aja bingung, di warung Soto Ayam Suwir aja neng depannya warnet.”
Sampai di warung megambil piring sendiri-sendiri soalnya warung prasmanan, jadinya ambil nasinya sendiri-sendiri, kecuali ayamnya heee... heee... hee...
Mencari tempat duduk buat makan bersama sama Nafis dan Azka. Selesai makan bareng langsung menuju ke kos e gadis yang lugu itu, membuka gerbang kos lirih-lirih
           
“kriiiiiiik.... kriiiiiiiiikk... kriiiiik...” bunyi pintu gerbang.
Berlahan-lahan membuka pintu agar tidak menganggu teman yang di kos, bergantian sholat biar cepet sampai kampus. Semuanya sudah sholat dan siap-siap make up yang dandang dll. Meluncur ke kampus di tengah-tengah perjalanan, bertemu teman sekelas. Namanya Baiti Jannati alias Baiti Rahmawati. Menyapa Nafis, Azka dan Ria. Sambil menggendarai sepeda until, heeee... heeeee... heee...
            “wik semuanya akas-akas jam 12.00 wes berangkat nang kampus..?” sahut Baiti.
            “takutnya telat neng masuk kelasnya...?” jawabku. Sambil tertawa di jalan.
Jalan menuju kampus dengan langkah kaki agak cepat satu demi satu Ria lalui bersama Nafis dan Azka. Baiti ini langsung menuju kampus karena gadis ini memakai sepeda until dengan cepatnya.
 “seperti motor yang melaju dengan cepat...” ujarku.
Melihat jalan ini tiada henti-hentinya sampai tujuan. Melangkahkan kaki agak cepat dan terburuh-buruh wajah menunduk ke bawah semua, hampir mencapai titik di di depan gerbang yang biasa di lewati oleh setiap mahasiswa UIN SA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel)
            “awas pelan-pelan non, takut gak muat gerbangnya haaaa... haaa... haaa...?”
Ucap gadis yang sederhana itu kepada Ria (Ria kan badannya Big).
“Ria lho seksi baiti... pasti bisa masuk gerbang...?” dengan wajah PD, sahutku.
Melalui gerbang yang berwarna coklat yang udah tua usianya mungkin! Karena Ria lihat tidak ada warna yang melekat di besi gerbang kecil itu, yang selalu kunci utama masuk ke kampus lewat belakang. Satu persatu memasuki gerbang tersebut dengan pelan-pelan, terkadang ada hambatan tersangkut di tengah-tengah gerbang yang kecil buat Ria.
“kenapa kok kecil buat Ria...?” ujar gadis yang memakai tas kecil itu, dengan wajah kebingungan.
“kan tubuh Ria besar..! jadi menurut Ria yaaaaa... kecil... heeeee... heeeeeee...” jawabku dengan nada tinggi ketawanya.

Setelah melewati gerbang bersama-sama, akhirnya sampai juga di kampus. Melihat jam yag masih pukul 12.07 WIB, takut kalau nanti telat lagi di suruh sujud syukur sama Penulis Buku Best Seller 60 Menit Terapi Shalat Bahagia itu.
Berjalan menyusuri tempat parkiran motor yang akhir-akhir ini rapi, mungkin satpamnya sangat di siplin dan lumayan bisa di pandang mata. Satpamnya giat-giat menjalankan tugasnya demi kelancaran kita bersama.
Kemudian di depan Gedung A Dakwah di sebelah kanan dan kiri ini tempat kantor Dosen, dan di sudut kiri Ria masuk ada kamar mandi dan berdampingan dengan warung atau bisa di katakan kantin Dakwah, heee... heeee... heeee... dengan ekspresi ketawa sendiri. Takutnya di sampingnya setan.
Menaiki kaki ke lantai 2 dengan anak tangga kurang 25, sambil ngobrol di jalan.
            “apakah nanti habis mata kuliah Bapak Pemilik Rumah Jalan Siwalankerto Tengah no. 66 Surabaya itu...?” ujarku kepada anak-anak, dengan senyum kepadanya.
            “mungkin aja neng...?” jawab Azka sambil melihat kepada Ria.
Perasaan yang paling berbahaya adalah iri, karena iri hati melahirkan kebencian dan kebencian akan membunuhmu perlahan. Ketika kata-kata iri terucap dari mulut Ria, takut gak bisa menulis dan berbicara kepada semua orang. Tetapi Ria sangat berusaha dan tetap berusaha menjadi yang baik. Ria ingin bisa berbicara lebih baik di depan orang banyak itu sja yang saya ingin kan. Di depan kelas yang setiap selasa siang pukul 12.20 Ria belajar di kelas D2.112 tempatnya di sudut kanan dari anak tangga yang telah di lewati tadi.
Ketika beliau datang Bapak Dr. N. Faqih Syarif H,. S.SOS.I., M.Si. ke dalam kelas dan menjelaskan di dalam buku beliau yaitu ‘Memahami dan Mengenal Mesin Kecerdasan Anda
Bahwasannya makhluk hidup itu mempunyai otak yang masing-masing mempunyai dominan di dalamnya. Diantaranya : otak kiri bawah, otak kiri atas, otak kanan atas, otak kanan bawah dan otak tengah.
1.      Sensing (S) untuk belahan otak kiri bawah: beberapa ciri khas orang dengan mesin kecerdasan sensing adalah ulet, cara kerjanya teratur dan biasa bekerja secara efesien, pandai dalam ketelitian kerja, mencari fakta dan mengandalkan pengalaman, orientasi kerja benda atau materi, perannya player, yielding, kunci suksesnya meningkatkan skala dan waktu.
2.      Thinking (T) untuk otak kiri atas: pandai, cara bekerjanya mandiri, terbatas efektif, pandai dalam mengajar akurasi, mencari data, mengandalkan analisis, orientasi kerjanya proses dan sistem, peran controller, ekspektasi managing, kunci suksesnya mengektifkan sistem.
3.      Intuinting (I) untuk belahan otak kanan atas: Kreatif, cara bekerjanya variatif, terbiasa solutif, pandai dalam menciptakan produk, mencari pola, mengandalkan intuisi, orientasi kerja ide dan kreativitas, peran intiator, ekspektasi creating, kunci suksesnya mengkapitalisasi aset.
4.      Feeling (F) untuk belahan otak kanan bawah: Empatik, cara bekerjannya bersama, terbiasa persuasif, pandai dalam membangun kerja sama, mencari cerita, mengandalkan hubungan, orientasi kerja orang dan hubungan, peran supporter, ekspektasi leading, kunci suksesnya menempa orang.
5.      Instinct (In) untuk bagian otak tengah: Altruis, cara bekerjanya spontan, terbiasa responsif, pandai dalam hal-hal yang lebih taktis, mencari ringkasan, mengandalkan kesigapan, orientasi kerja peran dan pelibatan, peran partner, ekspektasi controbuting, memperlancar hubungan.
Pola komunikasi Anda & Kekuatan Anda
Thingking              : bicara konsekuensi fokus pada pekerjaan logis. Sistematis, kuat pada analisis dan logika, Mensismatiskan proses, Problem solving, manajement, metode diskusi, dan simulasi.
Sensing     : bicara pengalaman fokus pada fakta pragmatis. ATM, kekuatan pada tampilan materi dan pendukungnya serta pengalaman, metode penggunaan alat dan demonstrasi
Intuinting : bicara kemungkinan fokus pada solusi imaginatif. Imajinasi liar, entrepreneurship, gagasan baru, perubahan, keativitas, metode sosiodrama dan petualangan.
Feeling      : bicara perasaan fokus pada orang bombastis. Story telling, menyentuh hati, renungan, berurai air mata, inspirasional, bombastis, leadership, metode ceramah
Lelaki yang mempunyai 3 pesatren itu menjelaskan ‘Memahami dan Mengenal Gaya Komunikasi Anda
Yang pertama adalah Visual: mereka akan lebih mudah menyerap informasi atau pengetahuan dengan penglihatannya.
Kata beliau “perlu anda catat Ciri-ciri orang Visual kalau ngomong mewakili unsur-unsur penglihatan.
·         Tampaknya
·         Penglihatannya
·         Menurut pandangan saya
·         Ide anda kabur
ide anda kabur apa hayoo..? kata-kata yang mempunyai unsur melihat. Penampilan orang Visual itu rapi enak di pandang mata, ada kan orang itu penampilanya gak rapi... onok opo gak..? teman Ria yang memakai akik tiap hari hampir gonta-ganti itu menyahuti perkata’annya beliau
“hisyam...”
Jadi orang visual kalau anda masuk rumah orangnya peralatan pernik-pernik yang indah dan terus kemudian ada pigoranya waahh.. anda bisa curiga ini berarti visual itu bisa jadi, tapi belum tentu. Orang visual itu kalau masuk kantornya itu rapi... orang visual itu kalau ngomong agak cepet, misalnya ada telepon tidak bisa duduk dan bilang oh iya iya halo halooo... dan ketika menelpon biasanya pengang bulpoin dan mengorek-ngorek kertas padahal cuman ngoret-ngoret tok, orang visual itu berdasarkan data, jadi jangan di ajak bicara. Tapi juga bukakan data-data atau slide. Apalagi orang yang memotivasi harus mengetahui 3 gaya komunikasi ini yaitu : Visual, Auditori, dan Kinestetik.
Yang kedua Auditori, kata-katanya mewakili unsur mendengar hubunngannya dengan telinga, saya denger dari koran kemarin, betul atau tidak orang itu. Saya denger dari korankemarin bbm itu akan naik lagi...? bener, karena orang Auditori. Padahal koran baca gak, padahal ceritanya dari koran. Coba anda rasakan minggu-minggu ini ohhh.. orang ini Visual, ohh... orang ini Auditori. Apa yang kamu suka dari ‘gunung’ waduh... kalau ke gunung saya suka suara-suara burung, suara-suara angin. Wah itu Auditori sudah, dia tidak ngomongkan pemandangan lagi, tapi kalau dia ngomong apa yang paling dia suka dari gunung...? oh suasananya Pak, sejuk... wah itu penuh perasaan dan stetis. Bapak yang memakai baju kemeja garis-garis merah mengucapkan lagi dengan penuh perasaan, dan itu tidak bisa bohong itu, anda ngomong berapa menit saja tespennya berbunyi
“cet cet visual... visual...”
Itu tespen, dan di gabungkan, dan Ilmunya di sebut dengan seles majic. Coba apa ciri-ciri orang Auditori dia mewakili dari unsur-unsur melihat apa contohnya..?.
·         Tampaknya
·          Kelihatannya
·         Menurut pandangan saya
·         Ide saya kabur
Wes pokok’e ada unsur-unsur melihat, biasanya orang auditori kalau ngomong seperti orang membaca puisi, naik turun. Ciri-ciri orang auditori yang paling di kenal adalah ngomel-ngomel dewe, semua mahasiswa di kelas itu rame banget.. mungkin salah satu atau salah dua mempunyai sifat gitu, Ria melihat Azka tertawa.
 “waduh mungkin azka salah satunya hee..?”dalam hati bicara, dengan kening kerut ke atas.
Biasanya orang auditori suka ngomong-ngomong sendiri dan besenandu. Apalagi di kamar mandi nyanyi-nyanyi di kos atau pun di rumah. Biasanya di kamar atau kantornya ada musik atau suara-suara burung, dan harus ambil dari fererensi.
Yang ketiga Kinestetik, Bapak penulis Kiat Menjadi Da’i Sukses itu menyampaikan materi yang terakhir. Mewakili gerak dan perasaan, apa yang kamu suka ke pantai...? wah kalau saya suka ke pantai berenang, perasaan, suasana. Orang Kinestetik itu kalau ngomong cenderung lambat, enak misal
“jadiiiiii... kitaaaaa... harussss....” dengan ucapan yang lambat.
Orang Kinestetik itu kalau ngomong agak lambat dan kalau bergerak itu cepet. “copet,” ujar beliau dengan suara anak-anak tertawa. Jadi Mentri kalau ngomong pelan-pelan, tetapi kalau mengisi seminar beliau ngomongnya cepat. Jadi kalau ngomong cepat wartawan yang nulisnya agak cepat, apabila Presiden kita Jokowi ini kan kalau ngomong lambat. Jadi wartwannya juga nulisnya lambat dan enak.
Jadi apaila anda menjadi Motivator dan seorang Da’i harus mengetahui 3 Gaya Komunikasi.


           





2 komentar: