Rabu, 01 April 2015

Tidak Susah Menulis itu!

Di bawah teriknya matahari yang sangat panas, sampai mata tidak bisa melihat. Ku coba untuk melangkahkan kaki ini untuk ke tempat belajar yaitu kampus, bersama teman yang bernama Baiti Rahmawati.. dia adalah teman yang paling mengerti keadaan saya. Sebelum mau ke kampus, saya bonceng Baiti dengan merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Di perjalanan mau ke kampus mata ini sampai tidak bisa melihat jalan raya yang sangat panas sekali.
Sesampai di kampus saya bingung mau parkirin sepeda di mana,, dengan wajah kebingungan, sampai-sampai ku letakkan sepeda motornya 2x tempat motor. Yang pertama di depan Gedung Dakwah B, yang ke dua dan yang terakhir ku parkirkan sepeda aku. Waktu memarkirkan sepeda gadis yang selalu mengerti aku  itu sudah pergi ke dalam kelas. Ku lihati jam tangan ini udah telat masuk kuliahnya.. terburu-buru aku masuk ke Gedung Dakwah A tempatnya di Lantai II di ujung sudut dengan kelas D1.211 di situlah tempat saya belajar saat itu. Di depan kelas yang pintunya berwarna coklat sedangkan temboknya berwarna cream yang lumayan buat anak 30-an buat belajar. Sejenak dengan nafas ngos-ngosan di depan pintu dengan berkeringat yang menempel di sekujur wajah saya.
Dengan menarik pintu itu tiba-tiba ada orang tua yang berbaju putih dan bercelana hitam itu berkata, “sujud syukur dan baca subhanallah hingga 100x,” ketika beliau berkata begitu langsung hati saya bergetar dan bilang,”Ya Allah ini salah hamba mu yang telah ceroboh dengan waktu,” dan beliau itu adalah Bapak yang telah menyemangati murid-muridnya yaitu Bapak Prof Ali. Ketika itu hati saya mersa bersalah sebelum bersujud syukur di depan kelas tepatnya di depan meja Pak Prof Ali. Saya bersyujud dengan hati yang ikhlash dengan ber usainya sujud syukur selesai, rasa badan aku ini agak enak dan fres lagi. Mungkin itu efek dari sujud syukur tadi, Subhanallah.

Sebelum bersujud saya kebingungan menaruh tas di atas kursi tepatnya kursi ke dua dari depan, dengan semangat langsung bersujud syukur. Setelah itu Pak Prof Ali berkata dan menyampaikan mata kuliah hari ini dengan semangat 45. Di dalam menyampaikan mata kuliah Tehnik Khitobah ini kaget saya kira cara menyampaikan materi dakwah lewat blog, ternyata di ajarkan tentang “PEDOMAN PENULISAN PERISTIWA” ketika itu saya bingung, apa ini lalu beliau boleh juga di katakan dosen yang sangat hebat dan tak segan-segannya untuk menyemangati Mahasiswanya, beliau berkata “Orang yang usia 50 tahun saja bisa masak Mahasiswa kalah,” dengan penuh semangat saat mengucapkannya saya kagum dan saat itu menggelengkan kepala Subhanallah. Dosen yanga berwajah menyenangkan itu berkata lagi “Saya sudah melatih anak SD kelas 3 ke atas, jangan sampai orang Islam tidak bisa menulis jangan sampai kalah dengan orang Yahudi,” saya mendengar perkataan beliau sangat menyentuh dan bergegas untuk merubah semuanya.. 

17 komentar:

  1. cie cie emaaah...aku terhura,,,GR baca namaku

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. oke tak lanjutkan kalau sudah ada inspirasi zein ,,

      Hapus
    2. jangan menunggu inspirasi kalau mempunyai ide langsung tulis di buku

      Hapus
    3. apa bedanya inspirasi dan ide iku,,
      hehehe

      Hapus
    4. menurut saya ide itu datang dari hal yang ditangkap oleh mata kalau inspirasi adalah muncul ketika melamun. kalau kurang lihat di mbah google

      Hapus
    5. kalau nulis itu bukan dari otak ya,,
      kan nangkap e dari pikiran,, ualah ,,
      saya masih bingung tolong di jelaskan lagi ya,,,

      Hapus
    6. anda bingung tanya ke mbah google

      Hapus
  3. jadikan peristiwa itu sebagai dorongan agar dpt lebih baik :)
    subhanallah cerita inspiratif.

    BalasHapus
  4. amin, agar tidak telat lagi masuk kuliahnya ,,
    di siplin waktu ya ??

    BalasHapus
  5. semoga menjadi penulis yg hebat

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin , mudah2,an yang mendoa kan di permudahkan langkahnya ,

      Hapus