Di bawah teriknya matahari yang sangat panas, sampai mata tidak
bisa melihat. Ku coba untuk melangkahkan kaki ini untuk ke tempat belajar yaitu
kampus, bersama teman yang bernama Baiti Rahmawati.. dia adalah teman yang
paling mengerti keadaan saya. Sebelum mau ke kampus, saya bonceng Baiti dengan
merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Di perjalanan mau ke kampus mata ini
sampai tidak bisa melihat jalan raya yang sangat panas sekali.
Sesampai di kampus saya bingung mau parkirin sepeda di mana,,
dengan wajah kebingungan, sampai-sampai ku letakkan sepeda motornya 2x tempat
motor. Yang pertama di depan Gedung Dakwah B, yang ke dua dan yang terakhir ku
parkirkan sepeda aku. Waktu memarkirkan sepeda gadis yang selalu mengerti aku itu sudah pergi ke dalam kelas. Ku lihati jam
tangan ini udah telat masuk kuliahnya.. terburu-buru aku masuk ke Gedung Dakwah
A tempatnya di Lantai II di ujung sudut dengan kelas D1.211 di situlah tempat saya
belajar saat itu. Di depan kelas yang pintunya berwarna coklat sedangkan
temboknya berwarna cream yang lumayan buat anak 30-an buat belajar. Sejenak
dengan nafas ngos-ngosan di depan pintu dengan berkeringat yang menempel di
sekujur wajah saya.
Dengan menarik pintu itu tiba-tiba ada orang tua yang berbaju putih
dan bercelana hitam itu berkata, “sujud syukur dan baca subhanallah hingga
100x,” ketika beliau berkata begitu langsung hati saya bergetar dan bilang,”Ya
Allah ini salah hamba mu yang telah ceroboh dengan waktu,” dan beliau itu
adalah Bapak yang telah menyemangati murid-muridnya yaitu Bapak Prof Ali.
Ketika itu hati saya mersa bersalah sebelum bersujud syukur di depan kelas
tepatnya di depan meja Pak Prof Ali. Saya bersyujud dengan hati yang ikhlash
dengan ber usainya sujud syukur selesai, rasa badan aku ini agak enak dan fres
lagi. Mungkin itu efek dari sujud syukur tadi, Subhanallah.
Sebelum bersujud saya kebingungan menaruh tas di atas kursi
tepatnya kursi ke dua dari depan, dengan semangat langsung bersujud syukur. Setelah
itu Pak Prof Ali berkata dan menyampaikan mata kuliah hari ini dengan semangat
45. Di dalam menyampaikan mata kuliah Tehnik Khitobah ini kaget saya kira cara
menyampaikan materi dakwah lewat blog, ternyata di ajarkan tentang “PEDOMAN
PENULISAN PERISTIWA” ketika itu saya bingung, apa ini lalu beliau boleh juga di
katakan dosen yang sangat hebat dan tak segan-segannya untuk menyemangati
Mahasiswanya, beliau berkata “Orang yang usia 50 tahun saja bisa masak
Mahasiswa kalah,” dengan penuh semangat saat mengucapkannya saya kagum dan saat
itu menggelengkan kepala Subhanallah. Dosen yanga berwajah menyenangkan itu
berkata lagi “Saya sudah melatih anak SD kelas 3 ke atas, jangan sampai orang
Islam tidak bisa menulis jangan sampai kalah dengan orang Yahudi,” saya
mendengar perkataan beliau sangat menyentuh dan bergegas untuk merubah
semuanya..
cie cie emaaah...aku terhura,,,GR baca namaku
BalasHapusterhura atau terharu mbk bet,,
Hapuskereeeeeeeeeen ,..
BalasHapusudah di baca ta kok bilang kerenn ..
Hapuslanjutkan menulis mak
BalasHapusoke tak lanjutkan kalau sudah ada inspirasi zein ,,
Hapusjangan menunggu inspirasi kalau mempunyai ide langsung tulis di buku
Hapusapa bedanya inspirasi dan ide iku,,
Hapushehehe
menurut saya ide itu datang dari hal yang ditangkap oleh mata kalau inspirasi adalah muncul ketika melamun. kalau kurang lihat di mbah google
Hapuskalau nulis itu bukan dari otak ya,,
Hapuskan nangkap e dari pikiran,, ualah ,,
saya masih bingung tolong di jelaskan lagi ya,,,
anda bingung tanya ke mbah google
Hapussiip mas :)
Hapusjadikan peristiwa itu sebagai dorongan agar dpt lebih baik :)
BalasHapussubhanallah cerita inspiratif.
amin, agar tidak telat lagi masuk kuliahnya ,,
BalasHapusdi siplin waktu ya ??
iyaa kakakk :)
Hapussemoga menjadi penulis yg hebat
BalasHapusamin , mudah2,an yang mendoa kan di permudahkan langkahnya ,
Hapus